PADANG – Stabilitas sistem keuangan daerah di Sumatera Barat masih terjaga di triwulan I tahun 2020. Meskipun melambat, aset perbankan masih tumbuh sebesar 0,53 persen (year on year/ yoy).
“Triwulan I 2020 stabilitas sistem keuangan daerah di Sumatera Barat masih terjaga. Aset perbankan tumbuh sebesar 0,53 persen atau melambat dibandingkan triwulan IV 2019 yang tumbuh 4,21 persen (yoy),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A, Selasa (30/6/2020).
Sejalan dengan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga tumbuh melambat 3,88 persen (yoy). Melambat jika dibandingkan pertumbuhan DPK pada triwulan IV 2019 sebesar 7,30 persen (yoy).
Dari sisi kredit/ pembiayaan terlihat meingkat dari triwulan sebelumnya. Triwulan I 2020, kredit dan pembiayaan di Sumatera Barat tumbuh 4,97 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan IV 2019 yang tumbuh 4,81 persen.
Sementara itu, rasio Non Performing Loan (NPL) Sumatera Barat juga tercatat meningkat pada triwulan I 2020. Pada triwulan IV 2019, NPL tercatat 2,60 persen (yoy), namun pada triwulan I 2020 naik menjadi 3,03 persen (yoy).
“Peningkatan NPL sejalan dengan meningkatnya kredit non performing yang diindikasikan sebagai dampak pandemi COVID-19 dan melambatnya perekonomian Sumatera Barat pada triwulan I 2020,” terang Wahyu.
Sedangkan, dari sisi transaksi non tunai pada triwulan I 2020 Wahyu menyebutkan mengalami perlambatan. Hal itu sebagai dampak pandemi Covid-19 yang mengurangi kegiatan ekonomi masyarakat.
Transaksi non tunai di Sumatera Barat melalui Real Time Gross Settlement (RTGS), kliring, maupun Layanan Keuangan Digital (LKD) mengalami penurunan dibandingkan triwulan IV 2019. Sementara itu transaksi uang elektronik (UE) yang menunjukkan peningkatan seiring adanya perluasan implementasi UE untuk parkir di beberapa titik dan perluasan program Sembako di tahun 2020.
Wahyu menambahkan, perekonomian Sumatera Barat pada triwulan III 2020 diprakirakan meningkat dari triwulan II 2019. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih akan menopang perekonomian.
Peningkatan konsumsi rumah tangga sejalan dengan normalisasi permintaan setelah melewati masa physical distancing. Serta beradaptasinya perilaku ekonomi masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi informasi (digital).*





