Tim Singgah Sahur Kunjungi Rumah Milik Pemukat di Anak Aia
  • Home
  • Berita
  • Tim Singgah Sahur Kunjungi Rumah Milik Pemukat di Anak Aia

Tim Singgah Sahur Kunjungi Rumah Milik Pemukat di Anak Aia

Walikota bersama tim singgah sahur di rumah milik Suardi di Anak Aia. (der)

Walikota bersama tim singgah sahur di rumah milik Suardi di Anak Aia. (der)

PADANG – Setelah bersusah payah menyusuri pematang sawah tanpa lampu penerangan jalan sepanjang hampir 1 KM, tim Singgah Sahur Sederhana (Singgasana) Kota Padang akhirnya tiba di sebuah perkampungan. Warga di perkampungan yang berada di kaki Bukit Anak Aia, Kelurahan Batipuh Panjang, Kecamatan Koto Tangah itu baru saja terbangun untuk mempersiapkan makan sahur.

Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah yang memimpin tim Singgasana mengucapkan salam kepada penghuni sebuah rumah yang kondisinya memprihatinkan. Memprihatinkan lantaran terdiri dari kayu-kayu yang terlihat sudah lapuk, sempit dan berlantai tanah pula. Dari dalam rumah,  penghuninya menyahut dengan nada canggung dan sedikit terkejut.

Rumah itu adalah milik Suardi alias Iwan. Pria paroh baya tersebut menempati rumah yang tergolong tidak layak bersama istri dan lima anaknya. Meskipun sempit, mereka sekeluarga terpaksa bertahan di sana.

“Jangankan untuk membuat rumah,  mencari buat makan sehari-hari saja sekarang kami sulit,  Pak,” ujar Suardi setelah mempersilahkan Walikota dan rombongan duduk beralaskan tikar di ruang tengah rumah itu, Selasa (6/6) dini hari.

Suardi mengisahkan kehidupannya, setelah menamatkan Sekolah Dasar, ia tidak lagi melanjutkan. Suardi memilih ikut melaut mencari ikan, menjadi anak payang atau ikut kapal bagan. Pekerjaan itu dijalaninya hingga dewasa bahkan sampai berumah tangga dengan Ita.

Semula pekerjaan memayang dan ikut kapal bagan cukup bagus. Tetapi belakangan, seiring semakin ketatnya peraturan dan sering ada razia kelengkapan surat-surat kapal. Celakanya,  induk semang kapal sering mengabaikan kelengkapan surat-suratnya sehingga kapal yang dioperasikannya ditangkap. Lalu,  Suardi memutuskan berhenti ikut kapal dan memilih memukat di pantai saja.

“Memukat di pinggir, kadang- kadang penghasilannya bagus, tetapi lebih sering dapat ala kadarnya bahkan tidak dapat apa-apa, ” tutur pria berperawakan tinggi dengan kulit gelap itu.

Sekarang Suardi bekerja serabutan. Pekerjaan memukat sesekali dijalaninya, tetapi pada musim ke sawah dia bekerja di sawah sendiri. Terkadang menerima upah.

“Beginilah kehidupan kami Pak Wali. Demi anak-anak bisa sekolah. Biarlah sementara kami tinggal di rumah yang keadaannya seperti ini, ” ujarnya lirih.

Walikota Mahyeldi menyemangati Suardi agar tidak menyerah. Yang penting anak-anak mereka harus tetap bersekolah dan didik mereka dengan ilmu agama agar kelak menjadi anak yang cerdas dan mampu mengangkat marwah keluarga.

Anak-anak Suardi yang turut duduk meriung di ruangan itu berkali-kali diusap kepalanya oleh pemimpin Kota Padang yang juga disapa Buya itu. Tak jarang Buya memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan kepada empat anak perempuan dan seorang anak laki-laki buah hati Suardi dan Ita. Buya menanyakan tentang prestasi di sekolah dan cita-cita mereka.

Sementara dari kejauhan, lapat-lapat dari pengeras suara di masjid terdengar orang membangunkan warga untuk sahur. Walikota dan rombongan semakin merasakan kedekatan dengan keluarga sederhana itu. Tergabung dalam tim Singgasana itu, beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Pimpinan Baznas Kota Padang serta camat dan lurah.

“Apakah tanah lokasi rumah ini sudah diperuntukkan buat keluarga?” tanya Wako kepada Suardi di sela hening.

Ternyata, tanah lokasi rumah itu sudah diperuntukkan buat Ita dari kaumnya suku Melayu. Artinya,  pembangunan rumah Suardi dan Ita bisa dibantu melalui program Baznas ditambah partisipasi donatur dan swadaya dari pihak keluarga.

“Alhamdulillah, rumah ini akan segera dibedah melalui bantuan Baznas. Insya Allah sebelum Idul Fitri nanti sudah selesai, ” kata Mahyeldi.

Mendengar itu, bukan main harunya Suardin dan Ita. Di bawah bias lampu terlihat jelas mata keduanya berkaca-kaca.

“Alhamdulillah,  ini rumah ke empat yang kita kunjungi ramadan ini. Kita targetkan bisa mengunjungi delapan rumah sampai sebelum hari raya nanti,” ujar Wako.

Wako menyebut, program singgah sahur sudah dilaksanakan empat kali dengan ramadhan ini. Selain menjadi ajang silaturahim membangun kedekatan dengan warga, program itu sejalan dengan program unggulan Kota Padang, yaitu merehab seribu rumah tidak layak huni per tahun.

“Kita berharap program ini akan berjalan dengan baik sehingga warga miskin yang tinggal di rumah yang tidak layak secara bertahap bisa dientaskan,” tukuknya.

Kunjungan Tim Singgasana di rumah Suardi   diakhiri dengan makan sahur bersama dan dilanjutkan dengan melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid terdekat. (der)

Berita Terkait

Leave a Reply