
PADANG – Pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat pada Juli 2018 terpantau meningkat. Inflasi Sumatera Barat lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan menempatkan daerah ini menjadi tertinggi kedua di Sumatera setelah Bengkulu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan, laju inflasi pada Juli tercatat sebesar 0,56 persen (month to month/mtm). Besaran ini lebih tinggi dibanding Juni yang hanya sebesar 0,37 persen (mtm).
“Besaran inflasi tersebut dibentuk dari dua kota sampling yaitu Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing mencatatkan inflasi sebesar 0,62 persen (mtm) dan 0,09 persen (mtm),” kata Endy, Kamis (2/8).
Dia menambahkan, tekanan inflasi Sumatera Barat pada Juli 2018 disumbang oleh semua kelompok dengan laju tertinggi berasal dari kelompok harga bahan pangan bergejolak (volatile food). Kelompok ini tercatat mengalami inflasi sebesar 1,18 persen (mtm) atau naik dibanding bulan Juni 2018 sebesar 0,44 persen (mtm).
Laju kelompok barang yang diatur pemerintah atau administered price terpantau melambat namun masih cukup tinggi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,40 persen (mtm), turun dibandingkan Juni 2018 yang sebesar 0,64 persen (mtm).
Sementara itu, meskipun masih berada pada level moderat, namun kelompok inti (core) kembali mengalami peningkatan. Laju inflasi kelompok inti meningkat dari 0,20 persen (mtm) menjadi 0,31 persen (mtm) pada bulan Juli 2018.
Endy menyebutkan, laju inflasi Sumatera Barat tersebut secara bulanan berada di atas pergerakan harga nasional yang mencatatkan inflasi sebesar 0,28 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumatera Barat sebesar 3,25 persen (year of year/yoy) juga tercatat lebih tinggi dibanding nasional yang sebesar 3,18 persen (yoy).
“Sedangkan, berdasarkan kalender tahun berjalan dari Januari sampai Juli 2018 mencapai 2,00 persen (ytd) atau masih rendah dibanding inflasi nasional sebesar 2,18 persen (yoy),” terangnya. (fdc)






