PADANG – Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Padang terpantau mengalami kekosongan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax. Kekosongan sudah terjadi sejak kemarin dan hingga malam takbiran ini, pasokan dari Terminal BBM belum datang.
SPBU yang mengalami kekosongan stok BBM jenis Pertamax antara lain di SPBU Coco Ulak Karang dan SPBU Air Tawar. Menurut salah seorang petugas SPBU Coco Ulakkarang, kekosongan Pertamax sudah terjadi sejak kemarin (Senin, 4/7). Demikian juga di SPBU Air Tawar. Namun untuk BBM jenis Premium dan Pertalite hingga saat ini masih terpantau aman dan mencukupi.
Kekosongan Pertamax ini membuat sejumlah pelanggan kecewa. Sebagian terpaksa beralih ke Pertalite meskipun tak jarang yang akhirnya mengisi kendaraannya dengan premium.
Menurut beberapa orang pelanggan, Pertamax menjadi pilihan mereka sejak produk Pertamina dengan RON 92 itu diluncurkan. Mereka merasakan keuntungan lebih memakai Pertamax diantaranya lebih irit dan mesin lebih awet. Sebagian besar pelanggan setia Pertamax adalah pengendara sepeda motor.
“Pertamax itu saya rasa lebih irit, kemudian mesin lebih terjaga dan bersih. Harganya juga tak berselisih terlalu jauh dengan Pertalite dan Premium,” ujar Budi, seorang pengendara sepeda motor yang mengaku dalam perjalanan pulang kampung dari Pekanbaru menuju Painan, Selasa (5/7) sore.
Hendri, teman Budi mengakui hal yang sama. Menurutnya, menggunakan Pertamax setelah diuji menggunakan jarak tempuh secara manual lebih irit daripada premium biasa. Di samping itu, tarikan mesin juga terasa lebih ringan. Dia mengaku menggunakan Pertamax setelah direkomendasikan oleh pemilik bengkel tempat dia melakukan servis motor hampir setahun lalu.
Terpisah, Area Manager Communication Manager Operation (MOR) I Pertamina Fitri Erika dihubungi padangmedia, Selasa (5/7) malam mengakui, konsumsi BBM Jenis Pertamax hingga H-1 ini memang mengalami peningkatan hingga dua kali lipat. Dalam kondisi normal, konsumsi Pertamax di Sumatera Barat 70 kiloliter perhari.
“Hingga H-1 ini meningkat dua kali lipat dan lonjakan peningkatan tertinggi sementara ini terpantau pada tanggal 2 Juli 2016 yang mencapai 187 kiloliter,” terangnya.
Meski demikian, menurutnya, kekosongan di SPBU terjadi lebih kepada menunggu pengiriman berikutnya karena stok di Terminal BBM mencukupi.
Fitri juga menjelaskan, lonjakan tertinggi konsumsi BBM justru terjadi pada Pertalite. Lonjakan mencapai 426 persen dari kondisi normal yang hanya 56 kiloliter per hari.
“Lonjakan tertinggi Pertalite juga terjadi pada 2 Juli mencapai 434 kiloliter,” terangnya. (feb)






