Ini Kisah Mahyeldi di Kamang Magek, Dari Garin Masjid Menjadi Walikota
  • Home
  • Berita
  • Ini Kisah Mahyeldi di Kamang Magek, Dari Garin Masjid Menjadi Walikota

Ini Kisah Mahyeldi di Kamang Magek, Dari Garin Masjid Menjadi Walikota

AGAM – Buya Mahyeldi Ansharullah diundang masyarakat Kamang Magek, Kabupaten Agam untuk memberikan ceramah pada kegiatan “Subuh Berjamaah” di Masjid Wustha Kamang, Ahad (29/12/2019).

Di hadapan ratusan jamaah Masjid Wustha Kamang Mahyeldi membuka ceramahnya dengan perkenalan yang membuat haru. Dia menyampaikan apa adanya tentang kehidupan masa lalu yang dialaminya.

Berasal dari keluarga tidak berpunya, dirinya menempuh kehidupan yang keras. Dia harus membantu orang tua yang bekerja sebagai pengangkut barang di Pasar Atas Bukittinggi. Itu dilakukan sepulang sekolah, kadang – kadang sebelum berangkat sekolah.

Kehidupan yang sulit memaksa keluarganya hijrah ke Dumai. Di kota itu Mahyeldi menamatkan SMP. Kemudian kembali ke Bukittinggi, Mahyeldi melanjutkan ke SMA 1 Bukittinggi sampai tamat. Pada 1986, Mahyeldi pindah ke Padang untuk kuliah. Dia diterima di Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

Sejak itulah dia harus berjuang menafkahi diri dan membiayai kuliahnya sendiri. Sehari – hari, Mahyeldi tinggal di masjid. Menjadi garin (penjaga masjid).

Di samping kuliah, berkat rajin belajar dari beberapa guru sampai akhirnya Mahyeldi banyak menguasai ilmu agama. Dia memberikan ceramah dari masjid ke masjid

Dia menuturkan, berbekal keyakinan yang kuat, dia mencoba membiayai kuliahnya sendiri. Sambil mengajar mengaji di surau dan dari rumah ke rumah, kuliahnya tetap jalan.

Kemudian memutuskan bergabung dengan Partai Keadilan (PK) yang sekarang jadi PKS. Masuk dunia politik dan terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Berhasil mendapatkan suara terbanyak, putra asli Tilatan Kamang ini dipercaya untuk jabatan Wakil Ketua DPRD.

“Kemudian saya terpilih menjadi Wakil Walikota Padang dan kembali terpilih sebagai Walikota Padang periode 2014 – 2019 berlanjut periode II, 2019 – 2024,” ulas Mahyeldi.

Saat menceritakan kisahnya, Mahyeldi terlihat serius dengan mata berbinar. Begitu juga para jamaah, semasjid tampak diam menahan haru.

Kemudian Mahyeldi melanjutkan ceramahnya. Dia menekankan pentingnya iman, persatuan umat dan pembinaan generasi muda dalam landasan agama, berbangsa dan bernegara. Sebab bangsa ini diperjuangkan dengan semangat itu. Terlihat dari pembukaan UUD 1945, kemerdekaan diraih berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Ini membuktikan kepada kita. Agama dan politik dalam berbangsa dan bernegara tidak terpisahkan,” ujar Mahyeldi yang juga Ketua Dewan Pengurus Wikayah (DPW) Forum Bela Negara Sumatera Barat itu.

Mahyeldi yang menuturkan kisah hidupnya dengan jujur dan menyampaikan ceramahnya mengalir gamblang sangat mudah dipahami jamaah. Dia dinilai sebagai pemimpin sederhana dan berpemahaman agama yang dalam. Itu sebabnya masyarakat sangat menantikan kehadirannya.

“Itu sebabnya masyarakat sangat antusias ketika ada agenda tablikh akbar dan subuh berjamaah bersama warga Kamang. Kali ini jamaah lebih ramai dari biasanya. Mereka ada yang datang dari jauh,” kata Rio Malin Batuah selaku pengurus masjid sekaligus panitia pelaksana “Subuh Berjamaah” bulanan Masjid Wusta Kamang.

Menurut dia, kali ini pihaknya mengundang Buya Mahyeldi yang merupakan Walikota Padang sebagai peceramah. Hal ini atas permintaan sebagian besar warga Ampang Kamang Magek yang menjadi jamaah Masjid Wustha.

“Alhamdulillah, Buya Mahyeldi berkenan hadir untuk mengisi pengajian subuh ini. Warga juga datang lebih ramai dari hari – hari biasa. Itu juga berkat pengumuman yang sudah kita sampaikan dari beberapa hari sebelumnya, ” tutur Rio.(der)

Berita Terkait

Leave a Reply