
PADANGMEDIA.COM – Sejak dicanangkannya Progam Agam Menyemai, salah satu perubahan di tengah masyarakat adalah meningkatnya semangat menanam dan memanfaatkan lagi kolam ikan yang terlanjur mati. Semangat menanam warga meningkat drastis. Bukan saja tanah kosong yang dijadikan kebun, tetapi lahan pekarangan pun tidak dibiarkan menganggur.
Bupati Agam Indra Catri, Dt. Malako Nan Putiah menyebutkan, kini lahan pekarangan warga Agam sudah dimanfaatkan untuk menanam tanaman bumbu dapur dan tanaman buah-buahan. Kolam ikan, yang dulu dibiarkan menjadi sarang nyamuk kini sudah dimanfaatkan lagi untuk memelihara ikan.
“Bahkan, aliran sungai dan bandar irigasi sudah banyak dimanfaatkan warga untuk lubuk larangan. Semua itu berkat kampanye dan bantuan benih ikan dari Pemkab Agam,” ungkap sosok sederhana dan merakyat itu.
Pemimpin yang dikenal mudah senyum itu dinilai telah berhasil menjalankan program tersebut. Program Agam Menyemai yang telah sukses dan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat itu merupakan program dalam mencoba membangun dan memotivasi masyarakat melalui suatu gerakan moral “PENYEMAIAN NILAI-NILAI KEBAIKAN” masyarakat Kabupaten Agam dalam memanfaatkan lahan pekarangan, lahan perkantoran, lahan mesjid, lahan tidur dan lahan yang tidak produktif lainnya dengan menanam tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, palawija dan tanaman hias.
Selain itu, mengisi kolam-kolam yang tidak termanfaatkan selama ini dengan ikan, sehingga memberi manfaat dan pendapatan ekonomi, baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat dilingkungannya.
Di samping itu, dengan gerakan itu juga dapat memupuk budaya menanam bagi setiap individu mulai dari anak-anak sampai dewasa, menjadikan menanam pohon sebagai “amal jariah” dan memotivasi masyarakat untuk sadar terhadap arti penting pohon bagi kehidupan.

Adapun tujuan dari program ini diantaranya, memupuk budaya menanam bagi setiap individu masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan yang tidak produktif lainnya. Begitu juga dengan kolam-kolam ikan, baik kolam ikan kepunyaan individu, maupun kelembagaan, seperti kepunyaan organisasi pemuda, masjid, MDA dan sebagainya.
Selain itu juga memotivasi masyarakat untuk sadar terhadap pentingnya tanaman untuk menopang kehidupan baik bagi dirinya sendiri, keluarga masyarakat maupun lingkungannya, sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta meningkatkan nilai kesehatan masyarakat.
Program itu telah dilaksanakan dalam jangka waktu yang cukup lama, dari awal kepemimpinan Indra Catri menjadi Bupati Agam hingga 2 periode. Hasilnya telah terbukti, Agam menjadi asri dan lestari. Semenjak program Agam Menyemai dijalankan, Pemerintah Kabupaten Agam sudah melakukan penanaman dan pembagian bibit tanaman pepohonan dan buah-buah kepada masyarakat yang tersebar pada 82 nagari telah mencapai puluhan juta bibit. Begitu juga dengan penyebaran bibit ikan, telah dibagikan kepada masyarakat yang mau mereklamasi kolamnya sekitar puluhan juta benih bibit ikan.
Sebab, data yang dihimpun padangmedia.com dari Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam, Pemerintah setempat menargetkan setiap tahunnya mampu mendistribusikan minimal 2 juta bibit tanaman dan buah-buahan serta 2 juta benih bibit ikan pula kepada masyarakat.
Penanaman kembali berbagai jenis tanaman dan penyebaran benih bibit ikan merupakan salah satu alternatif solusi yang efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pelestarian lingkungan hidup serta ilmu tentang kesehatan.
“Prinsip kegiatan Agam menyemai perlu partisipasi secara menyeluruh dan berkelanjutan yang dilakukan secara terencana dan terus menerus serta komperensif. Sebab, pada intinya kita telah melakukan penyemaian terhadap nilai-nilai kebaikan di tengah-tengah masyarakat kita sendiri,” kata Bupati Agam, H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah saat berbincang-bincang dengan padangmedia.com.
Salah satu bentuk dari keberhasilan program Agam Menyemai, Bupati Agam Indra Catri mendapatkan apresiasi langsung dari Kementrian Pertanian dalam hal Ketahanan Pangan pada kegiatan sidang Regional Dewan Ketahanan Pangan Nasional yang dilaksanakan di Hotel Mercure Surabaya, pada 16 Mei 2016 lalu.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku diminta sebagai pembicara utama. Dalam presentasinya ia mengangkat tema “Sukses Story Pengelolaan Ketahanan Pangan di Kabupaten Agam”. Kesuksesan yang dilakukan melalui program “Agam Menyemai” yang memanfaatkan lahan-lahan tidur termasuk pemanfaatan perkarangan rumah yang ditanami dengan tanaman dan buah-buahan serta kolam ikan.
Tidak hanya berfokus pada peningkatan ketersediaan pangan, pemerataan distribusi pangan dengan harga terjangkau dan tercapainya pola konsumsi pangan yang aman, bergizi dan beragam, namun juga meningkatkan peran masyarakat dan pihak swasta dalam mendukung ketahanan pangan, termasuk dukungan dari program PKK melalui pemberdayaan kesejahteraan keluarga.
Ternyata memang benar, filosofi Agam dengan program “nan dilaman untuak dimakan nan diparak baok ka pakan” dapat memberi nilai lebih kepada masyarakat tani.
“Alhamdulillah, ini bukti dari keberhasilan kami. Itu tentu tidak terlepas dari dukungan semua pihak, khususnya masyarakat Kabupaten Agam yang telah mampu menerapkan program Agam Menyemai sehingga dengan program itu perekonomian masyarakat meningkat signifikan. Mudah-mudahan peningkatan itu bisa terus berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya sambil tersenyum.
Menyemai Nilai-nilai Kebaikan
Program Agam Menyemai merupakan program yang mencoba membangun dan memotivasi masyarakat melalui suatu gerakan moral “Penyemaian Nilai-nilai Kebaikan” masyarakat Kabupaten Agam. Terutama dalam memanfaatkan lahan pekarangan, lahan perkantoran, lahan mesjid, lahan tidur dan lahan yang tidak produktif lainnya dengan menanam tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, palawija dan tanaman hias.
Selain itu, warga dimotivasi untuk mengisi kolam-kolam yang tidak termanfaatkan selama ini dengan ikan. Dengan begitu, apa yang disemai dapat memberi manfaat dan pendapatan ekonomi, baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat di lingkungannya.
Gerakan itu juga dapat memupuk budaya menanam bagi setiap individu, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Menanam pohon ditujukan sebagai “amal jariah” sehingga masyarakat termotivasi untuk sadar terhadap arti penting pohon bagi kehidupan.

(fajar/adv)






