Februari 2020, Sumbar Alami Deflasi -0,20 Persen
  • Home
  • Berita
  • Februari 2020, Sumbar Alami Deflasi -0,20 Persen

Februari 2020, Sumbar Alami Deflasi -0,20 Persen

PADANG – Perkembangan indek harga konsumen (IHK) umum Sumatera Barat pada Februari 2020 mengalami deflasi bulanan sebesar -0,20 persen (month to month/ mtm). Turun dibanding Januari 2020 yang masih mencatatkan inflasi 0,60 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A melalui siaran pers, Selasa (3/3/2020) menyebutkan, laju inflasi Sumatera Barat pada Februari 2020 berada di bawah realisasi inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen (mtm).

Secara spasial, terangnya, pada Februari 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,29 persen (mtm). Kondisi ini menjadikan Padang sebagai kota dengan nilai deflasi terendah ke-4 dari 8 kota/ kabupaten IHK di kawasan Sumatera yang mengalami deflasi.

” Serta berada pada peringkat ke-5 deflasi terendah dari 17 kota/ kabupaten IHK di Indonesia yang mengalami deflasi,” terang Wahyu.

Sementara itu, Wahyu menyebutkan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 0,46 persen (mtm) pada Februari 2020. Realisasi itu lebih tinggi dari pada bulan Januari 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,25 persen (mtm).

“Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai inflasi tertinggi ke-5 dari 16 kota/ kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami inflasi. Secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-25 dari 73 kota/ kabupaten IHK yang mengalami inflasi,” paparnya.

Wahyu menambahkan, secara tahunan, pada Februari 2020 Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 2,28 persen (year on year/ yoy). Menurun dibandingkan realisasi inflasi Januari 2020 sebesar 2,36 persen (yoy). Namun lebih tinggi dibanding realisasi inflasi tahun lalu (Februari 2019) yang sebesar 1,95 persen (yoy).

“Nilai inflasi tahunan Sumbar ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang sebesar 2,98 persen (yoy) dan realisasi inflasi Sumatera yang sebesar 2,45 persen (yoy),” sebutnya.

Dalam pada itu, secara tahun berjalan, sampai dengan Februari 2020 inflasi Sumatera Barat sebesar 0,40 persen (year to date/ ytd) atau turun dibanding Januari 2020 yang sebesar 0,60 persen (ytd).

Wahyu merinci, deflasi Provinsi Sumatera Barat pada Februari 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok transportasi dan kelompok makanan, minuman dan tembakau. Secara umum kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar -1,91 persen (mtm).

“Didorong oleh penurunan tarif angkutan udara yang mengalami normalisasi tarif dengan andil sebesar -0,24 persen,” ujarnya.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar -0,12 persen. Deflasi kelompok ini didorong oleh penurunan berbagai komoditas bahan makanan yang cenderung mengalami penurunan permintaan.

Sementara itu, Wahyu juga menyebut beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau. Antara lain bawang putih yang menyumbang inflasi 0,07 persen dan cabai merah 0,06 persen.

Kenaikan harga bawang putih terutama didorong oleh adanya isu pembatasan impor dari Tiongkok terkait dengan antisipasi mewabahnya virus corona (COVID-19). Sementara itu cuaca yang kurang mendukung di Sumatera Barat turut mendorong kenaikan harga cabai merah dikarenakan curah hujan tinggi menghambat produksi dan kelancaran distribusi cabai merah.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Februari 2020 juga berasal dari inflasi pada kelompok rekreasi, olahraga dan budaya. Inflasi pada kelompok ini tercatat sebesar 2,55 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,18 persen (mtm).

Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga buku pelajaran SD dan buku pelajaran SLTP dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen. Hal ini disebabkan oleh akan masuknya masa Ujian Nasional pada bulan April dan awal Mei 2020.

Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi yaitu kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan nilai inflasi sebesar 0,56 persen (mtm). Inflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan dengan andil sebesar 0,02 persen. Kenaikan harga emas perhiasan disebabkan oleh ketidakpastian global yang turut meningkat akibat kekhawatiran penyebaran virus COVID-19. */fdc

Berita Terkait

Leave a Reply