
PADANG – Lonjakan harga telur ayam yang signifikan dalam dua pekan terakhir, disinyalir akibat adanya “pengaturan” dari oknum atau pihak pelaku usaha. Harga telur ayam di Pasar Raya Padang sempat bertahan Rp 28.000/kg, naik dari sebelumnya Rp. 26.000/kg. Sedangkan daging ayam menyentuh Rp. 30.000/kg dari harga normal Rp. 28.000/kg
Untuk memastikan hal tersebut, Pemerintah Kota Padang bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Perwakilan Daerah di Medan turun langsung mengecek harga di Pasar Raya Padang, Rabu (1/7/2018).
Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan, pihaknya bersama KPPU menelusuri langsung ke pasar guna melihat penyebab harga telur dan daging ayam belakangan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut bisa jadi karena “pengaturan” atau memang pasokan yang terkendala.
“Jika ditemukan ada pengaturan oleh oknum atau pihak tertentu terkait harga, hal ini tentu tidak nisa dibiarkan. Untuk itu, kami di Pemko Padang melakukan pemantauan bersama KPPU,” kata Mahyeldi.
Pantauan harga di Pasar Raya Padang untuk telur dan daging ayam hari ini (Rabu, 2/8/2018) sudah kembali turun. Pedagang menjual telur ayam dengan harga Rp. 25.000/kg atau perbutir Rp. 1400 dan Rp 1500 untuk kualitas super. Untuk daging ayam Rp 28.000/kg dari sebelumnya 30.000/kg.
“Alhamdulillah, harga telur dan daging ayam pada hari ini sudah kembali turun. Namun kita tetap menelusuri penyebab kenaikan harga signifikan agar kedepan bisa diantisipasi dan diamnil tindakan bila memang ada permainan mengatur harga,” tukas Mahyeldi yang didampingi pimpinan organisasi perangkat daerah terkait, diantaranya Dinas Perdagangan, Dinas Pangan, Dinas Pertanian dan Bagian Perekonomian.
Kepala Kantor Perwakilan Daerah KPPU di Medan, Ramli yang turun didampingi staf memgatakan, pihaknya turun mengecek pemicu lonjakan harga telur dan daging ayam. Setelah di Medan, berlanjut ke Padang yang termasuk wilayah kerjanya.
“Sedang kami dalami pemicu lonjakan harga, dan kami turun ke pasar untuk memantau ada apa sebenarnya. Setelah di Medan, hari ini di Padang,” kata Ramli.
Dia mempertanyakan juga kenapa harga telur ayam masih tinggi, padahal sudah lewat masa Lebaran.
“Makanya itu yang kita lihat kenapa kok ini masih tinggi,” ujarnya.
Menurut Ramli, informasi yang dihimpunnya dari pedagang sampai peternak dan agen pemasok ada disebabkan harga pakan ternak ayam naik. Sebagian menyebut karena pengaruh berkurangnya produksi dan menurunnya jumlah pasokan.
“Bila terindikasi ada yang bermain atau mengatur kenaikan harga maka hal itu menjadi urusan KPPU,” tukas Ramli.
Sebagai informasi, menurut catatan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) sekitar 35% bahan baku pakan ternak masih diimpor.
Impor bahan baku pakan ternak berasal dari 5 negara, mulai dari Australia, Brasil, hingga Amerika Serikat (AS). Rinciannya, bungkil kedelai diimpor dari Brasil, Argentina dan AS.
Sedangkan tepung daging dari AS, Australia dan Selandia Baru. Sudirman menjelaskan harga bahan baku pakan ternak tersebut naik seiring menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.(der)






