
JAKARTA – Sedikitnya 12 ribu lebih keluarga (KK) terdampak bencana banjir yang melanda 15 kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Bencana banjir dipicu oleh curah hujan tinggi akibat fenomena Madden Julian Oscillation (MJ) di Samudera Pasifik yang membawa massa udara basah ayng diperkirakan akan bertahan hingga satu pekan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, ada 15 kabupaten terdampak banjir di provinsi tersebut.
“Hujan deras telah menyebabkan banjir di 15 kabupaten. Data sementara, banjir menyebabkan lebih dari 12.495 KK terdampak,” kata Sutopo, Kamis (7/3).
Sutopo menjelaskan, MJO adalah fenomena gelombang atmosfir yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia) ke timur dengan membawa massa udara basah. Masuknya aliran massa udara basah ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah yang dilalui.
“Fenomena ini bisa bertahan hingga satu pekan (minggu),” katanya.
Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barat Sumatera yang membentuk daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa menyebabkan curah hujan meningkat.
Dia menambahkan, banjir di 15 kabupaten di Jawa Timur disebabkan karena sungai – sungai dan drainase yang tidak mampu mengalirkan aliran permukaan sehingga banjir merendam banyak tempat. Sementara ini, warga terdampak mengungsi ke tempat – tempat yang dianggap aman.
15 kabupaten di Jawa Timur yang terendam banjir adalah Kabupaten Madiun, Nganjuk, Ngawi, Magetan, Sidoarjo, Kediri, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo, Gresik, Pacitan, Tranggalek, Ponorogo, Lamongan dan Blitar.
“Daerah yang paling parah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun sebanyak 39 desa di 8 kecamatan terendam,” ujarnya. (fdc/*)






