SULUT – Lima orang meninggal dunia dan dua orang hilang akibat musibah banjir dan longsor di Kabupaten Sangihe Provinsi Sulawesi Utara pada 20 dan 21 Juni lalu. Bencana itu juga merusak sedikitnya 209 unit rumah dan sejumlah sarana infrastruktur. Diperkirakan, kerugian materiil mencapai Rp67 miliar.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (23/6) menyebutkan, upaya penanganan darurat akibat banjir, longsor, gelombang pasang dan cuaca ekstrem masih dilakukan. Bencana banjir dan longsor menimpa beberapa kecamatan antara lain Kecamatan Tahuna, Tahuna Barat, Tahuna Timur, Manganitu, Kendahe, Tamoko, Manganitu Selatan dan Kecamatan Tatoareng.
“Dampak yang ditimbulkan 5 orang tewas, 2 orang hilang dan kerusakan rumah dan infrastruktur senilai Rp 57 milyar,” kata Sutopo.
Kerusakan perumahan meliputi 44 unit rumah rusak berat, 116 unit rumah rusak sedang dan 49 unit rumah rusak ringan. Sementara kerusakan infrastruktur meliputi rusaknya dasar jembatan 2 unit dan jalan sepanjang 1 km sehingga mengakibatkan 5 kampung dan 3 kecamatan terisolir. Sarana pendidikan dan fasilitas umum yang rusak 7 unit dan kerusakan perkebunan dan pertanian lebih kurang 10 hektar.
“Pengungsi sebanyak 610 jiwa ditampung di 2 lokasi, gereja Imanuel dan SD Kolngan Beha. Pendataan dampak bencana masih dilakukan.” ujarnya.
Tim Reaksi Cepat BNPB dipimipin Direktur Tanggap Darurat BNPB Junjung Tambunan telah berada di lokasi bencana sejak Rabu (22/6) untuk mendampingi BPBD. BNPB menyerahkan bantuan dana siap pakai untuk operasional penanganan darurat Rp350 juta yang diterima Bupati Kepulauan Sangihe.
TRC BNPB melakukan kaji cepat dan bantuan siap saji serta peninjauan lokasi pengungsian dan daerah terdampak bencana. BPBD Provinsi Sulawesi Utara telah menyalurkan bantuan logistik dan peralatan. BPBD Sangihe bersama TNI, Polri, SAR, SKPD, dan lainnya melakukan penanganan pengungsi, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dan warga yang terdampak serta pembukaan akses jalan.
Kebutuhan mendesak saat ini adalah kebutuhan dasar pengungsi, dapur umum, air bersih, wc darurat, manajemen pengungsian, pengalian longsoran yang menimbun korban jiwa, pembukaan akses jalan, normalisasi alur sungai, perbaikan sarana air bersih dan perbaikan jaringan listrik. (feb/*)






