Petani Bayang Tersenyum, Musim Kuini Tahun Ini Bikin 'Hepi'
  • Home
  • Artikel
  • Petani Bayang Tersenyum, Musim Kuini Tahun Ini Bikin ‘Hepi’

Petani Bayang Tersenyum, Musim Kuini Tahun Ini Bikin ‘Hepi’

PAINAN – Pemilik pohon kuweni atau kuini di Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan dan sekitarnya boleh tersenyum lega. Pasalnya, musim kuini tahun ini rata-rata berbuah lebat dan harganya cukup bagus.

“Ya, pendapatan kami tahun ini meningkat karena kuini berbuah lebat dan harganya bagus pula,” ujar Kamal (35), warga Asam Kumbang, Bayang yang ditemui Padangmedia.com di sela kegiatannya, (Selasa, 06/08/2019).

Kamal menuturkan , peningkatan ini bukan hanya karena berbuah lebat, tetapi karena masuknya pengepul dari daerah lain. Pengepul dari pulau Jawa itu membeli kuini dengan harga Rp. 4.000 sampai Rp. 5.000 per kilogram.

“Biasanya pada musim lalu, pengepul hanya satu harganya pun lebih rendah. Tapi musim kuini kali ini dengan masuknya pengepul dari daerah lain, harga lebih bersaing,” tutur Kamal.

Kamal menambahkan buah kuini tahun ini rata-rata berbuah lebat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kadang-kadang sudah banyak rontok, terlebih di musim penghujan.

“Pada musim ini, sebatang kuini dapat menghasilkan buah, 150 kg hingga 200 kg. Pendapatan dari satu pohon saja hampir 800 ribu,” tukasnya.

Hal tersebut juga diakui warga lainnya, Junaidi (43) yang merasakan meningkatnya pendapatan karena naiknya harga buah kuini.

“Alhamdulillah, saya pada musim kali ini mendapatkan uang dari hasil panen sebanyak Rp. 3 juta biasanya hanya sekitar 500 ribu dari 5 batang pohon, ” ujarnya .

Sebagai ulasan yang dikutip dari berbagai sumber, kuini dengan nama saintifiknya Mangifera Odorata merupakan spesies tumbuhan dalam keluarga Anacardiaceae atau sejenis mangga-manggaan. Kuini terdapat di Guam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Tumbuhan ini memiliki buah yang harum dan daging buah yang lembut. Konsistensi daging buah kuweni lebih padat daripada bacang dan seratnya lebih halus. Karakternya berada di antara mangga dan bacang, dan para ahli juga menganggapnya sebagai hibrida antarspesifik alami antara mangga dan bacang.(Afr/der)

Berita Terkait

Leave a Reply