PADANG – RW VI Kelurahan Rawang, Kecamatan Padang Selatan yang dikenal dengan sebutan Bukik Karan merupakan wilayah yang unik. Masyarakat di sini hidup rukun dalam keberagaman, terdiri dari suku Nias, Batak, Jawa, Tionghoa dan tentu saja suku Minang.
Hal itu terlihat pada acara “Gebyar Kemerdekaan” yang dihelat masyarakat setempat. Warga masih dalam semangat peringatan HUT RI ke-74 memeriahkan acara dengan menampilkan tarian dari Nias disamping tarian dari Minang, Ahad (15/09/2019).
Pada kesempatan itu ditampilkan pula Balance Madam, yaitu dansa-dansi ala Padang tempo dulu. Musik gamad turut menghibur dan permainan panjat pinang tidak ketinggalan pula.
Sayangnya, di tengah hangatnya kehidupan bermasyarakat di wilayah yang berada di kaki bukit kecil itu, masih ditemui kesenjangan. Betapa tidak, sebagian besar warga di wilayah ini terdiri dari keluarga prasejahtera. Banyak yang bekerja serabutan dan buruh kasar di pelabuhan Teluk Bayur.
Disamping itu infrastruktur di sini masih minim, diantaranya akses jalan banyak yang rusak, tidak ada jamban sehat serta perlu sarana WC umum. Air bersih sangat tergantung dari sumber mata air di bukit.
Lurah Rawang Andi Amir mengaku tidak pesimis dengan keadaan masyarakatnya itu. Lurah energik ini melirik potensi besar yang sebenarnya mampu menggenjot kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Maka Lurah pun mendeklarasikan Bukik Karan sebagai Kampung KB Wisata.
“RW VI Kelurahan Rawang telah ditetapkan sebagai Kampung KB yang kita namakan Kampung KB Wisata Bukik Karan. Hal ini kami lakukan agar percepatan peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat segera terwujud,” kata Andi Amir di sela kegiatannya menghadiri acara tersebut.
Menurut Andi Amir, tujuan dibentuknya kampung KB di RW VI Bukik Karan ini adalah meningkatkan peran pemerintah. Peran itu melalui lintas sektoral dan lembaga non pemerintah maupun swasta dalam pembangunan.
“Lintas sektoral akan memfasilitasi dan melakukan pendampingan serta pembinaan masyarakat untuk penyelenggaraan program kependudukan, Keluarga Berencana, serta pembangunan keluarga demi meningkatkan ketahanan keluarga,” ulasnya.
Lurah terbaik Kota Padang tahun lalu itu menambahkan, pemerintah berhak mengatur angka kelahiran anak supaya mengantisipasi terjadinya lonjakan pertumbuhan penduduk.
“Pemerintah tidak melarang ibu-ibu punya anak, akan tetapi kelahiran anak harus direncanakan agar terwujud keluarga yang sejahtera. Harapan kami seperti itu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kampung KB itu merupakan tempat terintegrasinya program pembangunan dari seluruh lintas sektor. Lingkup kegiatan kampung KB tidak hanya fokus pada kegiatan program pengendalian kelahiran saja, melainkan ada kegiatan kesehatan reproduksi, ketahanan dan pemberdayaan keluarga, pembangunan permukiman, pendidikan, hingga peningkatan sosial ekonomi masyarakat.
“Makanya pada pelaksanaan Kampung KB, lintas sektor dilibatkan secara aktif,” tukuknya.
Feriyanto, salah satu tokoh Pemuda Bukik Karan menyebut, daerahnya jauh tertinggal dari wilayah lain yang ada di Kelurahan Rawang. Ia berharap terbentuknya sebagai Kampung KB merupakan solusi untuk kemajuan Bukik Karan.
“Kami berharap ditetapkannya sebagai Kampung KB akan dapat memberi efek positif kepada masyarakat. Sehingga tingkat kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan masyarakat semakin baik,” ungkapnya.
Dia nengaku, Bukik Karan banyak dihuni warga keturunan Nias dan dari beberapa suku bangsa lainnya. Keberagaman ini akan dijadikan kekuatan untuk membangun di wilayahnya yang tertinggal.
“Kami di sini beragam. Kebanyakan dari suku Nias serta beberapa yang lain. Tapi kami akan jadikan ini kekuatan untuk bersatu membangun daerah ini,” tegasnya.(der)






