Seru, Pacuan Tertua Kelas " Boko " Juga Digelar di Kubu Gadang
  • Home
  • Berita
  • Seru, Pacuan Tertua Kelas ” Boko ” Juga Digelar di Kubu Gadang

Seru, Pacuan Tertua Kelas ” Boko ” Juga Digelar di Kubu Gadang

kuda berpacu (dok tumpak)
PAYAKUMBUH – Kuda Bintang BTM, Melati Teah, Namira Guti dan Putra Srigunting akan berpacu di kelas Boko jarak 1.600 meter digelar kejuaraan pacuan kuda di Gelanggang Kubu Gadang Payakumbuh, dihari kedua, Senin (17/2/2020) nanti.
Kelas pacuan tertua di Sumatera barat adalah kelas yang sangat istimewa dan sangat dinanti-nanti pecandu pacuan kuda di ranah ini. Karena jarak segala kecepatan, jarak segala ketinggian, jarak segala umur kuda pacu berpacu dikelas khusus ini.
Pelatih kuda senior Sumatra Barat Amris menyatakan walau saat ini Race Boko sudah kalah favorit dari race Derby ( Kelas 3 Tahun AB ) namun race Boko merupakan suatu race yang bersejarah dan unik dalam paket
acara pacu kuda yang dilaksanakan Pordasi Provinsi Sumatera Barat.  “Jika Pordasi Sumbar dengan cikal bakal Ren Bond Minangkabau secara  resmi telah berdiri sejak pertengahan abad ke 19. Ditandai dengan adanya prasasti peresmian Gelanggang Pacuan Kuda Bukik Ambacang tahun 1889 lalu, dapat diprediksi race Boko mulai dilaksanakan bersamaan dengan itu” sebut Amris, Sabtu (15/2/2020)
Pelatih yang menghantarkan Kamang Chrome juara I Derby Indonesia itu menambahkan race Boko ada suatu race puncak dalam pelaksanaan pacu kuda dibawah organisasi Ren Bond Minangkabau yang dilaksanakan pada
hari kedua dari 2 hari pelaksanaan pacu kuda.
“Keunikan dari race Boko ini adalah bahwa persyaratan kuda peserta merupakan berprestasi dari setiap Ren Vereneking yang dikenal dengan Pordasi Cabang. Prestasi dimaksud telah menang pada race demang, sedangkan kuda demang itu adalah kuda yang telah menang pada race kuda  baru dan race kuda kandidat,” sebutnya.
Disamping berprestasi persyaratan unik yang dimaksud adalah dimiliki oleh pribumi. Dari salah satu persyaratan ini terbaca bahwa walau pada waktu itu pacu kuda diurus oleh Pemerintah Kolonial Belanda dimana secara ex Offisio Ketua Ren Bond yang juga Assisten Resident.
Ketua Ren Vereneking ada Tuan Luak tetapi ternyata kuda yang pemiliknya Belanda atau Cina tidak boleh ikut berpacu pada Race Boko. Sebagai kompensasinya kuda pacu milik Belanda atau Cina atau bangsa lainnya dibuka Race Ren Bond pada hari pertama, namun pada  Race Ren Bond kuda pribumi tidak dilarang ikut.
Setelah Kemerdekaan RI pacu kuda telah diurus oleh Pemerintah Indonesia. Pada masa ini persyaratan race boko tetap seperti sebelumnya, dalam perjalanannya ternyata kuda-kuda yang ditinggalkan Belanda yang merupakan kuda ex cavalery selalu memenangkan race boko sehingga memotivasi sebagian penggemar kuda membeli kuda-kuda ex cavalery.  “Untuk mengantisipasi situasi ini dan untuk melindungi ternak kuda  hasil peternakan rakyat Sumatera Barat maka untuk  peserta race boko ditambah persyaratannya yaitu kuda yang lahir di ranah ini,” tambah Amris
Setelah organisasi pacu kuda berganti nama menjadi Pordasi, prasarana dan sarana transportasi telah berkembang. Pacu kuda telah diperlombakan secara nasional yg disebut Kejuaraan Nasional Pacu Kuda.
Lalu lintas ternak kuda secara nasional pun terjadi sehingga terjadi kuda Sumbar yang kawin dengan pejantan dan melahirkan anak diluar wilayah Sumatera Barat. Maka untuk mengakomodasinya dirobah peraturan yang berbunyi kuda yang lahir di Sumbar menjadi kuda keturunan kuda Sumbar dari garis keturunan induk, hal ini pun sesuai dengan matrilineal yang dianut suku Minangkabau.
Saat ini Race Boko sudah tidak favorit lagi. Kalau dulu race Boko diikut 2 ekor kuda berprestasi sebagai wakil masing-masing ren vereneking atau Pordasi Cabang sehingga jumlahnya sampai 12 ekor. “Setelah memakai starting gate 8 ekor, dan kuda ini bisa mengikuti beberapa tahun sampai prestasinya  menurun. Namun pada  akhir-akhir ini hanya diikuti oleh lebih kurang 4 ekor kuda. Hal ini kuda-kuda yang berprestasi tidak bertahan lama,  kuda-kuda kalah terlalu cepat mundur dari arena. Kuda-kuda betina memilih untuk bibit agar memperoleh
generasi lebih tinggi, ” jelasnya.
Sebelum di gelanggang Kubu Gadang, kelas Boko 1.600 meter ini juga digelar di gelanggang Bukik Ambacang Bukittinggi dan kuda sang juara yakni kuda Kamang Chrome dari Bukittinggi sedangkan di Padang panjang
dimenangi kuda Melati Teah dari Payakumbuh. (tumpak)

Berita Terkait

Leave a Reply