
PADANG – Tak sedikit orang tua yang gaptek atau gagap teknologi. Sementara, perkembangan teknologi terus mengepung kehidupan anak. Anak-anak bisa dengan mudah belajar dan menguasai teknologi. Padahal, banyak bahaya mengancam anak di balik itu jika penggunaan teknologi, terutama gadget, tak didampingi orang tua.
Kadang orang tua dengan bangga mengatakan ia jauh kalah dari sang anak dalam hal menggunakan handphone android. Sementara si anak, hanya pegang satu hari saja sudah bisa menguasai fitur fitur di dalamnya.
Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemprov Sumbar, Evari Hamdiana mengatakan, kepintaran anak menggunakan gadget adalah kepintaran secara insting. Setiap anak bisa melakukannya.
Sementara itu, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) saat ini tak hanya mengancam orang dewasa, namun juga anak-anak. Fenomena itu sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Penyebabnya di antaranya adalah penggunaan hp yang tak dikontrol dan ketidakharmonisan orang tua.
Anak-anak atau remaja yang suka bikin status ‘galau’ dan sejenisnya di media sosial, menjadi incaran bagi orang-orang LGBT untuk menarik mereka ke dalam komunitasnya.
“Anak punya password sendiri dan orang tua tidak tahu apa yang ditulis anak. Mereka menulis status galau. Dan, inilah yang menjadi incaran bagi komunitas LGBT untuk menarik ke komunitasnya,” kata Eva saat membuka kegiatan Festival Karakter III dan launching RAS (Rumah Anak Soleh) Center di Hotel Rangkayo Basa Padang, Senin (14/1).
Dikatakan Eva, karena orang tua banyak yang gaptek, maka perlu lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di penguatan karakter anak seperti RAS untuk mencegah hal-hal seperti itu. Karena, yang lebih penting adalah pencegahan daripada penanganan kasus. Jika karakter anak sudah kuat, maka lebih mudah untuk menangkis hal-hal negatif di lingkungannya.
500 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
Pada tahun 2018, kasus-kasus kekerasan pada perempuan dan anak cukup besar, mencapai 500 kasus. Sebagian besar masih dalam penanganan.
Kasus yang paling mendominasi dari 500 kasus tersebut adalah kekerasan seksual, termasuk sodomi. Terkait sodomi tersebut menjadi kasus yang paling jadi sorotan. Karena, korban sodomi berpotensi besar menjadi pelaku.
Anak laki-laki yang menjadi korban sodomi dalam waktu satu minggu sudah jadi pelaku. Sementara, satu orang pelaku sodomi, korbannya bisa lebih dari 100 orang dan paling sedikit 15 orang.
Dikatakan Eva, kasus-kasus kekerasan seksual pada anak serta LGBT, sekarang tak lagi monopoli Kota Padang, tapi juga telah menyebar ke kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat. Hal itu harus menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah kota/kabupaten. Masyarakat diminta tidak lagi menjadikan kasus-kasus kekerasan seksual ataupun LGBT menjadi kasus yang tabu untuk dilaporkan.
“Sekarang tak lagi era menutup nutupi, karena kita membuat program preventif berdasarkan kasus yang ada. Dari Pemprov Sumbar, gawenya adalah melakukan koordinasi, advokasi, sinkronisasi, dan pelatihan. Tahun 2019 ini, kita akan lanjutkan koordinasi dengan lembaga terkait,” katanya. (rin)






