
SAWAHLUNTO – Museum zaman sekarang harus dilengkapi aplikasi berbasis teknologi informatika agar memudahkan pengguna internet mengakses info museum. Selain itu, kelengkapan TI juga untuk menepis stigma museum yang membosankan karena hanya memajang benda-benda mati sehingga kurang menarik minat pengunjung.
Hal itu menjadi perdebatan pada seminat museum yang bertemakan Dapur Umum hingga Meseum Goedang Ransoem di era teknologi komunikasi dan digitalisasi informasi yang digelar di Hall Ombilin Sawahlunto, Kamis (13/12).
Dosen Pusat Komunikasi Universitas Bung Hatta Padang, DR Hendra Hidayat menekankan pentingnya strategi menerapkan aplikasi berbasis teknologi informasi terkini seperti program gambar virtual. “Kebutuhan sistem bilingual button serta penerapan aplikasi e-museum untuk memudahkan pengguna internet mengakses info museum,” sebut Hendra.
Sementara, Direktur Eksekutif Museum Perkebunan Indonesia Sumatera Utara Sri Hartini turut berbagi pengalamannya dalam mengelola museum sehingga mendapatkan penghargaan sebagai museum dengan tata pamer terbaik di tahun 2015.
“Untuk meningkatkan daya tarik museum, selain penerapan teknologi informasi, penting memperhatikan tata pamer koleksi museum, serta memperkaya koleksi dan data museum,” sebut Sri.
Pengelola museum diharapkan mengembangkan kerjasama dengan komunitas serta menawarkan paket-paket kunjungan kreatif di museum.
Walikota Sawahlunto Deri Asta menyatakan optimis terjadap pengembangan permuseuman di kota yang telah memiliki 7 museum itu. Namun, perlu inovasi serta kreatifitas pengelola serta kegiatan kreatif agar menjadi daya tarik tersendiri terhadap kunjungan ke museum.
“Museum juga dapat menjadi destinasi yang sangat memiliki kekhasan dengan kemasan yang baik,” ujar Deri.
Seminar tersebut selain mendatangkan Direktur Eksekutif Museum Perkebunan Indonesia Sumatera Utara Sri Hartini dan DR Hendra Hidayat dari Pusat Komunikasi UBH Padang, juga menghadirkan Dr Fitra Arda, Prof DR Erwiza Erman dan Drs Bambang Hariyadi, MT sebagai keynote speaker. (tumpak)






