Mentawai Canangkan Anti Stunting dan Gizi Buruk
  • Home
  • Berita
  • Mentawai Canangkan Anti Stunting dan Gizi Buruk

Mentawai Canangkan Anti Stunting dan Gizi Buruk

Kadinkes Sumbar Merry Yuliesday Mars dan Kadinkes Mentawai bersama pelajar serta pengajar di SD Mentawai. (ers)

MATOBE – Ibu hamil sangat berperan dalam pencegahan stunting. Karena, kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan kekurangan gizi kronis, terutama pada seribu hari pertama kehidupan anak. Anak stunting cenderung lebih kerdil dibanding anak seusianya.

“Gizi buruk yang terjadi pada bayi saat masih berada di kandungan, bukan kelalaian petugas kesehatan, namun di hilirnya. Hal ini perlu dituntaskan dengan melakukan perbaikan, sehingga dampaknya bisa diminimalisir,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Dr. Hj. Merry Yuliesday Mars saat pencanangan Mentawai Anti Stunting dan gizi buruk peduli anak (Mas Gibur Dua), tetangga dan keluarga peduli ibu hamil risiko tinggi (terali hati) di Desa Matobe, Kamis (18/10).

Melalui pencanangan Mentawai Anti Stunting dan Gizi Buruk Peduli Anak (Mas Gibur Dua), tetangga dan keluarga peduli ibu hamil risiko tinggi (terali hati), Kadinkes minta bersama wujudkan masyarakat Mentawai peduli kesehatan,

Tahun depan, pihak pemerintah desa diharapkan bisa memfokuskan dana desa 10 persen tahun pertama untuk kebutuhan dasar pembangunan kesehatan. Karena, untuk menghadapi stunting dan gizi buruk, setiap keluarga harus memastikan memiliki jamban.

Selain itu, peran Dasawisama di desa perlu digerakkan kembali, minimal bisa menguasai 10 atau 20 rumah dalam mencanangkan terali hati (sipusuruket, red) ibu hamil. Masyarakat diharapkan lebih pedulu pada keselamatan ibu hamil. Jangan sampai ada lagi kematian ibu hamil atau ibu hamil yang mengalami gizi buruk.

Merry Yuliesday juga meminta kepada pemerintah daerah untuk membentuk forum Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sesuai Permendagri Nomor 82 tahun 2018. Tujuannya agar rumah sakit dapat mempergunakan dana yang bersangkutan dengan kebutuhan dan tidak menunggu anggaran disahkan.

Sementara itu, Ketua IDI wilayah Sumbar, Dr. Pom Harry Satria S. Pog menyebutkan, Desa Matobe Kecamatan Sipora diharapkan bisa menjadi contoh kesehatan seluruh desa yang ada di Mentawai. Meski demikian, keberhasilan pembangunan kesehatan tak lepas dari dukungan IDI, tapi dukungan semua pihak.

IDI wilayah Sumbar mendukung pencanangan Mentawai anti stunting dan gizi buruk peduli anak (mas gibur dua), tetangga dan keluarga peduli ibu hamil resiko tinggi (terali hati) sipusuruket. Diharapkan pembangunan kesehatan di Mentawai bisa menjadi barometer kesehatan di Sumatera Barat. Pada kesempatan itu, Dinas Kesehatan Sumbar bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Mentawai juga melakukan pengobatan gratis kepada 547 pasien masyarakat di Desa Matobe. (ers)

Berita Terkait

Leave a Reply