PADANG – Sumatera Barat kembali mengalami deflasi menjelang Ramadhan. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Mei 2016 di Sumbar mengalami deflasi sebesar 0,36 persen (month to month/ mtm), tidak sedalam deflasi bulan April 2016 yang tercatat sebesar 1,00 persen (mtm).
Wakil Ketua Tim Teknis Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat Bimo Epyanto melalui siaran pers Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat, Kamis (2/6) menyebutkan, secara tahun berjalan, Sumbar mengalami inflasi namun pada tingkat yang rendah yaitu sebesar 0,02 persen (year to date/ ytd). Secara tahunan, inflasi Sumbar berada pada level3,86 persen (year on year/ yoy).
“Pencapaian deflasi bulanan (mtm) posisi Mei tersebut menempatkan Provinsi Sumbar pada urutan kedua sebagai provinsi dengan laju deflasi terdalam secara nasional,” kata Bimo.
Sementara itu, perkembangan harga bulanan di tingkat nasional tercatat mengalami inflasi sebesar 0,24 persen (mtm), bertolak belakang dengan deflasi Sumbar. Secara spasial, deflasi Sumbar disumbang oleh deflasi Kota Padang dan Bukittinggi yang masing-masing tercatat deflasi sebesar 0,37 persen (mtm) dan0,34 persen (mtm).
“Deflasi tersebut menempatkan Kota Padang pada urutan ketujuh dan Bukittinggi di urutan kedelapan sebagai kota yang mengalami deflasi secara nasional,” lanjutnya.
Komoditas kelompok pangan bergejolak (volatile food) menjadi sumber utama deflasi Sumbar. Deflasi di Sumbar sebagian besar disumbang oleh kelompok volatile food, sebesar -2,.21 persen (mtm). Namun demikian, kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) mengalami kenaikan IHK sebesar 0,.28 persen (mtm).
Sejalan dengan kenaikan IHK pada administered price, kelompok inti (core) turut mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, sebesar 0,.24 persen (mtm). Beras dan cabai merah menjadi komoditas utama penyumbang deflasi pada bulan Mei 2016. Turunnya harga komoditas beras disebabkan oleh ketersediaan pasokan beras yang memadai.
Hal ini disebabkan oleh penjualan stok beras yang dimiliki petani guna mencukupi kebutuhan primer menjelang bulan Ramadhan. Selain itu, kondisi cuaca yang baik di sejumlah sentra produksi cabai merah di Pulau Jawa menyebabkan peningkatan produktivitas tanaman cabai merah sehingga ketersediaan pasokan relatif terjaga.
Penurunan harga kedua komoditas tersebut juga ditopang oleh kelancaran distribusi. Di sisi lain, peningkatan harga komoditas ayam ras dan penetapan kenaikan tarif air minum PAM di Kota Bukittinggi menahan laju deflasi yang terjadi di Sumbar.
Kedepan, tekanan inflasi diprakirakan akan meningkat menjelang bulan puasa yang bersumber dari komoditas bahan pangan. Secara siklusnya, kebutuhan bahan pangan diprakirakan meningkat menghadapi bulan puasa. Komoditas yang perlu dicermati antara lain beras, cabai merah, dan bawang merah. Ketersediaan beras dapat dikelola melalui koordinasi dengan BULOG.
“Namun, ketersediaan khususnya cabai merah perlu penanganan serius mengingat sebagian besar pasokan komoditas strategis tersebut berasal dari luar Sumbar,” ujarnya. (feb/*)






