Kabupaten Pidie Jaya menjadi daerah dengan korban jiwa terbanyak dan kerusakan terbesar dari tiga kabupaten terdampak gempa bumi berkuatan 6,5 pada Skala Richter (SR), Rabu (7/12) pagi. Di Pidie Jaya, 91 orang meninggal dunia dan 536 orang luka-luka.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan update data korban dan kerusakan gempa pada Rabu malam pukul 20.30 Wib. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Soedarmo telah menetapkan status bencana provinsi dan masa tanggap darurat selama 14 hari untuk tiga kabupaten yaitu Pidie Jaya, Bireuen dan Kabupaten Pidie.
Di Kabupaten Bireuen, 2 urang tewas dan 136 luka-luka terdiri dari 8 luka berat dan 128 luka ringan. Sebanyak 10 ribuan santri terdampak. Sedangkan di Kabupaten Pidie, satu orang korban tewas dan satu orang masih hilang. Total korban dari tiga daerah itu adalah 94 orang tewas, 1 orang hilang, 128 orang luka berat dan 489 orang luka ringan.
“Data sementara yang berhasil dihimpun oleh BPBD setempat dan sudah dikonfirmasi terdapat 94 orang korban tewas, satu orang hilang, 128 orang luka berat dan 489 orang luka ringan,” kata Sutopo.
Untuk kerusakan materil, Sutopo menyebutkan, di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 105 Unit ruko roboh, 86 unit rumah rusak berat, 13 unit bangunan masjid roboh, 1 unit bangunan Indomaret roboh dan bangunan RSUD Pidie rusak berat. Selain itu, beberapa tiang listrik juga roboh dan beberapa ruas jalan retak.
Sedangkan di Kabupaten Bireuen, 35 unit rumah, 6 unit ruko dan 1 unit kilang padi serta 1 Unit Masjid mengalami rusak berat. Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Azziziyah Mudi Mesra roboh.
“Sedangkan di Kabupaten Pidie sementara terdata sebanyak 40 unit rumah mengalami rusak berat,” ujarnya.
Gempa berkekuatan 6,5 SR terjadi di Pidie Jaya Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Rabu pagi sekitar pukul 05.03 Wib. Pusat gempa berada di darat pada kedalaman 10 kilometer berlokasi di titik koordinat 5,19 LU dan 96,36 BT. (feb)






