
PADANG – Penangnan Covid 19 yang penularannya terjadi sangat cepat bisa dilakukan seperti menangkap harimau di jalan, bukan harimau yang sudah berada dalam kandang. Kenapa? Anologi semacam itu lebih sesuai kaena harimau didalam kandang ibarat pasien covid 19 yang sudah berada di rumah sakit dengan penanganan yang sudah jelas. Sementara harimau di jalan atau di luar umpama orang-orang yang masih bebas berkeliaran padahal ia berpotensi menularkan kepada orang lain (OTG).
Hal ini diungkapkan DR. Dr Andani Eka Putra, Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Univrsitas Andalas Padang, Minggu (7/6/2020) dalam pertemuan video conference pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Kepala Daerah seluruh Sumbar. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Forkopimda serta beberapa OPD terkait dilingkup pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Menurut Andani, dalam penanganan covid 19, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mencari orang-orang yang berpotensi sebagai penular. Semakin banyak orang-orang yang berpotensi menularkan itu ditemukan, maka kasus positif tidak akan meningkat.
“Semakin banyak kita menangkap harimau diluar, sama artinya semakin banyak kita menangkap orang-orang berpotensi sebagai penular. Artinya upaya itu adalah upaya yang terbaik kita lakukan dalam proses memutuskan mata rantai penularan,” jelasnya.
Ditambahkannya, masalah utama covid 19 itu sebenarnya bukan pada jumlah kematian yang hanya sekian persen, tetapi adalah pada proses penularannya yang sangat cepat berkaitan dengan virus yang sangat contagious. Bila dilihat angka kematian, sebenarnya tidak terlalu besar 3-4% namun pada fase puncaknya akan bergeser 7-10%, seperti kita contohkan di Amerika Serikat itu angka kematiannya bisa mencapai 500-2500/hari nah inilah yang harus kita fahami.
Sebenarnya corona virus itu adalah salah satu virus yang sudah ada sejak dulu. Pada manusia juga sudah ada virus yang bernama Common Corona Virus disebabkan influenza. Sekitar 15 % dari kasus inflenza itu oleh Corona virus. Covid-19 itu sendiri tidak akan hilang. Seperti misalnya virus influenza yang hingga saat ini tidak hilang. Pada akhirnya, Covid-19 itu akan tetap ada tetapi tidak lagi membahayakan.
Sementara wabah semacam ini sudah pernah terjadi dengan sejarah Middle East Respiratory Syindrome (MERS) sekitar tahun 2010, dan Savere Acute Respiratory Syindrome ( SARS), pada tahun 2002. Angka kematian MERS 4% dan SARS 9 sampai 10%. (nit)





