JAKARTA- Deputi Komisioner Perizinan dan pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Eddy Manindo Harahap menyampaikan apresiasi terhadap kepercayaan masyarakat yang tidak surut di tengah tekanan pasar modal Indonesia yang tidak ringan.
Hal itu disampaikan Eddy Manindo dalam pembukaan Capital Market Summit & Expo yang digelar di Main Hall PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (5/11/2026). CMSE 2026 akan berlangsung hingga Sabtu tanggal 7 November 2026.
Eddy mengakui bahwa sepanjang tahun 2026 pasar modal Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Namun, kepercayaan masyarakat masih tetap tinggi sehingga membentuk optimisme bahwa pasar modal Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan.
“Kita perlu mengakui bahwa tahun 2026 menjadi tahun yang menguji ketahanan pasar modal Indonesia dari volatilitas ekonomi global, eskalasi tensi geopolitik serta dinamika dari penilaian dari indeks provider global memberikan tekanan yang tidak ringan bagi pasar modal kita. Namun justru di tengah ujian ketahanan tersebut, yang sangat membanggakan adalah kepercayaan masyarakat tidak surut,” kata Jeffrey.
Ia menambahkan, kepercayaan masyarakat tersebut terlihat dari tingkat pertumbuhan investor domestik di pasar modal Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Berdasarkan data per 30 Oktober 2026, jumlah investor pasar modal tercatat sebanyak 33,36 juta Single Investor Identification (SID).
“Dengan demikian telah terjadi penambahan sebanyak 13 juta investor atau tumbuh sekitar 63,94 persen untuk tahun 2026 saja dan perlu diketahui juga bahwa pertumbuhan itu didominasi oleh generasi muda. Pertumbuhan ini merupakan tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia,” katanya.
Dari sisi inklusi, lanjutnya, juga sudah terlihat merata. Bahkan, di beberapa provinsi mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi seperi di Aceh, Sumatera Barat, dan beberapa provinsi lainnya.
“Data-data tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat dan merupakan Amanah yang harus dijaga oleh seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, sejak awal tahun OJK bersama SRO dan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan telah menjalankan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia. Ini merupakan agenda reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia.
“Beberapa langkah reformasi tersebut antara lain penetapan batas minimum free folat, kepemilikan saham, penguatan transparansi, pemilik manfaat akhir, keterbukaan kepemilikan saham, juga penegakan hukum yang lebih tegas, konsisten, dan berkelanjutan juga ke depan akan ada demutualisasi bursa efek di mana OJK telah mengeluarkan POJK nomor 13 tahun 2026,” katanya.
Ia menekankan, dari sisi penegakan hukum, sepanjang tahun 2026 OJK telah mengeluarkan sanksi kepada 959 pihak dengan total 2,56 triliun. Tindakan itu sebagai sinyal bahwa ke depan tidak akan ada lagi ruang bagi pelanggaran di pasar modal. Tujuannya adalah untuk melindungi investor dari tindakan yang merugikakan di pasar modal yang bisa mengurangi kepercayaan publik.
CMSE 2026 digelar selama tiga hari, sekaligus sebagai peringatan 49 tahun kembalinya pasar modal Indonesia. Tahun ini, CMSE mengangkat tema “Satu Langkah Investasi, Berjuta Peluang Masa Depan”. REDZ







