PADANG – Masih stabilnya harga sejumlah kebutuhan pokok menciptakan optimisme laju inflasi Sumatera Barat triwulan ketiga tahun 2015 ini masih terkendali. Bank Indonesia memprediksi, triwulan ketiga ini Sumbar masih akan mengalami deflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko, Senin (26/10) membuka Temu Responden Bank Indonesia mengungkapkan optimisme itu. Alasannya, kondisi harga bahan pangan bergejolak (volatile foods) masih stabil. Hal ini diperkuat lagi dengan terjadinya penurunan harga barang yang diatur pemerintah (administrative prices) atau belum adanya kebijakan baru.
” Melihat kondisi ini, kami memprediksi pada triwulan ketiga Sumbar masih akan deflasi atau laju inflasinya pada angka minus,” kata Puji.
Ia mengakui inflasi Sumbar cukup “pedas”, bahkan tahun lalu pernah mencapai 2 digit dan tertinggi di Indonesia. Gejolak harga cabe merah menjadi faktor paling dominan yang mempengaruhi laju inflasi.
Harga cabe merah, beras dan beberapa komoditas bahan pangan lainnya yang cukup berpengaruh besar terhadap inflasi, kata Puji, beberapa bulan ini menunjukkan kondisi harga yang cukup stabil. Sementara harga BBM seperti premium dan solar serta bahan bakar gas (elpiji) saat ini justru terjadi penurunan sehingga berdampak positif terhadap perekonomian.
Menyinggung pertumbuhan ekonomi, Puji mengungkapkan keyakinan bahwa Sumbar akan berada pada angka pertumbuhan 5,3 persen. Faktor pelemahan mata uang Rupiah dan penguatan mata uang dollar AS menjadi faktor yang sedikit menghambat pertumbuhan.
Temu Responden Bank Indonesia tahun 2015 ini mengangkat tema Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan peluang emas menuju bisnis global. Temu responden ini menghadirkan narasumber Wempy Dyocta Koto dan Rene Suhardiono. (feb)






