MENTAWAI – Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Kepulauan Mentawai masih dikategorikan cukup tinggi. Banyak variabel yang terjadi seperti kurangnya kesadaran masyarakat untuk datang ke petugas kesehatan untuk memeriksa kehamilan dan memberikan asupan gizi.
Penyebab terbanyak kematian bayi baru lahir di Mentawai adalah asfiksia, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan infeksi. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Lahmudin Siregar mengajak petugas perawat dan bidan untuk melakukan semacam pelatihan BBL, Asfiksia dan BBLR yang berada di 10 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Mentawai.
“Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan tentang pelaksanaan neonatal atau bayi baru lahir dimulai dari tingkat desa, rumah sampai rumah sakit. Hal ini merupakan salah satu strategi yang dapat menurunkan Angka kematian bayi di Kabupaten Kepulauan Mentawai,” ucapnya kepada padangmedia.com, Selasa (16/5) di sela pelatihan.
Petugas kesehatan seperti dokter, perawat dan bidan merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya ibu dan anak. “Sangat mungkin dijumpai kasus-kasus yang berhubungan dengan masalah kesehatan bayi baru lahir di pelosok Mentawai pada 43 desa dan dusun,” jelasnya.
Menurutnya, upaya yang harus dilakukan tentunya harus memacu petugas kesehatan yang berada di pelosok desa dan dusun, karena masih adanya kasus kematian bayi yang disebabkan oleh Asfiksia dan BBLR. Selain pelayanan antenatal dan asuhan persalinan normal (APN) yang berkualitas oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, bidan juga harus memiliki kemampuan dan keterampilan dalam penanganan asfiksia dan BBLR.
Dengan adanya pelatihan perawatan BBL, Asfiksia dan BBLR, ungkap Lahmmudin, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bidan yang terlatih dalam menggunakan teknolgi tepat guna dalam penanganan asfiksia setiap kali menolong persalinan dan penanganan BBLR. Selain itu, petugas dapat menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, sehingga kematian bayi karena asfiksia dan BBLR dapat terus menurun dengan signifikan di pelosok desa.
Dikatakan, tenaga kesehatan khusus bidan yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai sudah cukup bagus, namun masih ada beberapa titik yang dibutuhkan, terutama daerah-daerah sulit seperti Simatalu, Sagulubek, dan Sinakak. Tenaga kesehatan khusus bidan di 43 desa masing-masing ditugaskan sebanyak 2 orang, namun dalam satu dusun ditugaskan satu orang. Hal itu belum juga bisa ter-cover karena tugas bidan bukan hanya melayani masyarakat saja, akan tetapi memberikan pertolongan, memberdayakan masyarakat serta mendidik atau edukasi kepada masyarakat.
“Kita harapkan ke depan tenaga kesehatan yang sudah mendapatkan pelatihan dapat memberikan pelayanan yang baik, bagaimana ke depan menjaga orang sehat tetap sehat, menjaga orang sehat tidak sakit dan orang sakit bisa sembuh. Inilah tugas petugas kesehatan yang sudah ditugaskan di setiap titik pelosok Mentawai,” tambahnya. (ers)







