Membangun Personal Branding Cakada

Membangun Personal Branding Cakada

Ilustrasi

Oleh: Ahmad R. 

Seorang calon kepala daerah (cakada) membutuhkan popularitas untuk menarik massa pemilih. Popularitas yang tinggi sangat memungkinkan bagi calon kepala daerah memiliki elektabilitas yang juga tinggi. Dan, kombinasi keduanya akan membuka peluang untuk dipilih sebagai kepala daerah.

Salah satu cara untuk menaikkan popularitas seorang cakada adalah dengan membangun personal branding. Merujuk pada Wikipedia, personal branding adalah praktik seseorang memasarkan dirinya dan karirnya sebagai merek. Pribadi merek melibatkan aset dengan mendefinisikan individu tubuh, pakaian, penampilan fisik dan pengetahuan dengan cara mengarah ke kesan unik, beda, ideal, dan mengesankan.

Mengapa cakada perlu membangun personal branding? Karena dengan cara itu ia bisa dikenal oleh masyarakat. Siapa dirinya. Apa kelebihan dan kekurangannya. Sehingga, dengan begitu masyarakat sebagai calon pemilih akan bisa mengambil kesimpulan tentang sosok cakada tersebut.

Yang pertama dilakukan cakada adalah mengenal dan mengetahui dirinya sendiri. Ini bicara soal kelebihan dan kekurangannya. Kedua, memasarkan dirinya melalui saluran media, baik media mainstream ataupun sosial media, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan saluran komunikasi lainnya, sehingga semakin banyak dikenal orang. Baik gagasan, program kerja, maupun hasil kerja.

Ketiga, menjalin komunikasi dengan sebanyak-banyaknya orang untuk memperluas jaringan dan relasi politik dengan menyambangi masyarakat dan mengajak dialog. Dan keempat, sedapat mungkin berusaha untuk terus menjaga personal branding yang telah dibangun agar tidak hancur berantakan.

Bagi cakada yang masih aktif sebagai kepala daerah, seperti Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah, pesonanya akan kian sempurna jika personal branding-nya ditunjang dengan keberhasilannya dalam memimpin dan membangun daerahnya. Keberhasilannya itu bisa dilihat dan dinikmati oleh masyarakat. Hal itu juga dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diterima atas beragam prestasi yang diraihnya.

Keberhasilannya membangun daerahnya dalam rentang dua periode itu akan membuat masyarakat puas atas kinerja dan kepemimpinannya. Rasa puas ini kemudian akan menghadirkan persepsi positif tentang dirinya. Karena itu, jika kemudian ia maju lagi dalam pilkada yang skalanya lebih luas, yakni pemilihan gubernur maka peluangnya amat besar menjadi pilihan masyarakat.

Kalau personal branding bagus plus kinerjanya juga bagus, maka tidak sulit bagi cakada untuk merebut hati pemilih. Tak soal siapa pun yang akan menjadi pasangannya. Apakah tandemnya itu berasal dari satu partai politik dengannya atau beda partai atau non partai, publik tidak akan melihat itu.

Sebab, yang akan dilihat publik adalah ketokohan dan kharismanya sebagai cakada yang telah sukses membangun daerahnya. Karena publik sudah terpesona oleh nilai-nilai kepribadiannya, kecerdasannya, sikapnya, ketegasannya, dan kemampuannya memimpin daerah yang sudah dibuktikan selama memimpin daerahnya.

Pilkada serentak termasuk di Sumatera Barat baru akan digelar pada September 2020. Masih terbentang waktu yang cukup panjang bagi cakada untuk kembali menata relasinya dengan massa pemilih dari berbagai lapisan masyarakat. Dengan menyambangi, menyapa, dan berusaha memenuhi janji-janji politiknya yang mungkin saja belum terwujud hingga hari ini. (*)

Penulis adalah pemerhati sosial politik

Berita Terkait

Leave a Reply