Masih Banyak Kekayaan Alam di Sikakap yang Belum Tergali
  • Home
  • Berita
  • Masih Banyak Kekayaan Alam di Sikakap yang Belum Tergali

Masih Banyak Kekayaan Alam di Sikakap yang Belum Tergali

SIKAKAP – Potensi alam yang ada di wilayah Kecamatan Sikakap, banyak yang bisa dikembangkan, akan tetapi belum maksimal digali dengan baik untuk menjadikan pendapatan daerah.

Camat Sikakap, Franz Sakeletuk menyebutkan, potensi yang belum dikembangkan ini menjadi pekerjaan rumah untuk secara bersama mencari solusi dalam mengelolah hasil bumi untuk mejadikan ekonomi masyarakat.

“Salah satu hasil bumi yang sering di bawa keluar seperti pisang rata-rata setiap minggu mengeluarkan ribuan tandan pisang super yang di jual kepada tengkulak, kemudian di bawa keluar mentawai,” ucapnya.

Seharusnya hasil tersebut, kata Frans, dimanfaatkan untuk bisa di kelola sendiri, karena saat ini belum ada upaya kita untuk mengembangkan potensi yang ada, inilah bentuk perhatian kita semua untuk menjadikan ekonomis bermanfaat dengan punya nilai jual.

“Banyak potensi-potensi yang harus di gali, namun belum maksimal di kembangkan untuk menjadi nilai ekonomis bagi masyarakat,” kata Frans Sakeletuk kepada padangmedia.com, Satu (2/2).

Sementara Desa Matobek dan Taikako, sebut Frans unggulannya adalah penghasil pisang dan sampai saat ini kedua desa tersebut menjadi andalan dalam meningkatkan perekonomian di bidang pertanian, disamping itu cetak sawah masyarakat masih melakukan pertanian sedikitnya sudah ada 88 hektar sawah yang di kelola.

Kemudian di bidang perikanan yang didukung adanya SPKT, masyarakat nelayan yang memiliki keramba apung disikakap, menjadi keluhan masyarakat ketika panen, tidak ada penampung ikan kerapu termasuk ikan yang kategori ekspor, sehingga nilai jual ikan anjlok, ucap Frans.

Diakuinya petani tidak fokus satu pekerjaan, padahal tanah sangat subur apa yang di tanam bisa menghasilkan, namun disamping itu juga keterbatasan masyarakat perlu membutuhkan layanan maksimal.

Di sisi lain, Frans Sakeletuk mengajak masyarakat untuk tidak menjual tanah semuanya kepada orang lain, karena dengan sedirinya masyarakat tidak bisa lagi bercocok tanam, karena tanah itu kehidupan yang bisa di nikmati anak cucu kedepannya.

“Kita berharap kepada dinas terkait untuk memberikan program pengelolahan hasil bumi untuk bisa dipasarkan, tidak lagi bahan mentah di bawa keluar, namun di produksi sendiri, jadi ada kesempatan masyarakat diberikan pelatihan sehingga memiliki kemampuan mengolah hasil bumi yang ada,” tukasnya (Ers).

Berita Terkait

Leave a Reply