
MENTAWAI – Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet menekankan konsep keseimbangan dengan memikirkan aspek sosial kultural, ekonomi dan ekologi dalam melaksanakan pembangunan Mentawai ke depan.
Ia mengatakan, konsep keseimbangan dalam kehidupan tersebut telah dimiliki oleh orang Mentawai. “Orang Mentawai itu kalau mau buat sampan saja, dia mengambil kayu atau papan di hutan. Itu melalui proses ritual, potong ayamlah dan lain-lain. Ini melambangkan aspek kultural. Kemudian, ambil kayu juga hanya untuk satu keperluan. Ini untuk menjaga ekologi, sehinga nanti setelah sampan jadi, maka tercapailah aspek ekonominya,“ ujar Yudas kepada awak media usai menjadi keynote speaker pada Seminar Sehari Sejarah Mentawai yang digelar di Hotel Graha Viona Tuapejat, Selasa (3/10).
Sebagai daerah yang masih menyandang kategori wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T), kata Yudas, Mentawai terus berpacu untuk melakukan percepatan pembangunan di berbagai sektor. Pada saatnya nanti, Mentawai pasti maju dan berkembang tanpa harus meninggalkan identitas sebagai orang Mentawai.
”Intinya, Mentawai pasti bisa maju. Nanti akan ada jenderal, profesor dari Mentawai. Ada percampuran perkawinan antar suku. Di sisi agama juga seperti itu. Tetapi kuncinya tidak boleh tergerus lalu menghilangkan identitas sebagai orang Mentawai,” tegas Yudas.
Sebelum kabupaten dengan julukan “Bumi Sikerei” itu berdiri sendiri, menurut Yudas, banyak orang Mentawai yang tidak percaya diri. Mereka merasa tidak mungkin bisa menduduki jabatan penting di daerahnya sendiri.
“Dulu, orang Mentawai tidak percaya diri bahwa mereka akan bisa menjadi pegawai negeri, menjadi anggota DPRD, kepala dinas, bupati dan lainnya. Tapi sekarang kenyataannya kan bisa setelah Mentawai jadi kabupaten, itu semua terjadi,” ucapnya.
Seminar sejarah Mentawai dengan mengangkat tema “Pendekatan Sosio-Kultur sebagai strategi pembangunan Kabupaten Kepulauan Mentawai” merupakan rangkaian acara dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Mentawai ke 18 (4 Oktober 1999- 4 Oktober 2017).
Selain Bupati, hadir pembicara lain, yaitu Pendeta Panulis Saguntung, MSi yang berbicara mengenai orang Mentawai, misi dan gereja sejarah seratus tahun gereja kristen protestan di Mentawa. (ers)





