Aktivitas Mencari Anggau, Hanya Ada di Bumi Sikerei
  • Home
  • Berita
  • Aktivitas Mencari Anggau, Hanya Ada di Bumi Sikerei

Aktivitas Mencari Anggau, Hanya Ada di Bumi Sikerei

Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake saat membuka Festival Muanggau. (ers)

MENTAWAI – Pariwisata merupakan potensi ekonomi yang menjanjikan. Pariwisata mampu membangun karakter manusia dengan mencintai kedamaian, tidak ada pertengkaran, pertikaian, mencintai kebersihan serta mendatangkan keuntungan besar.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Mentawai, Kortanius Sabeleake saat membuka Festival Muanggau (kepiting endemik). Kegiatan tersebut ditandai dengan pemasangan peralatan sekaligus melepas peserta muanggau di lokasi Mapaddegat Kecamatan Sipora Utara, Selasa (5/9) malam.

Kortanius mengatakan, aktivitas Muanggau di Mentawai banyak yang beranggapan negatif dan juga seks bebas yang dipromosikan oleh dunia luar. Namun, Pemkab Mentawai selama ini tidak pernah melakukan protes. Pemkab ingin mengklarifikasi bahwa aktivitas mencari anggau bukanlah seperti itu, ucapnya.

“Kita sangat apresiasi terobosan Disparpora Mentawai dengan melaksanakan Festival Muanggau ini dengan mencari momen yang tepat. Sekaligus mengkampanyekan budaya lokal yang akan menjadi event nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Dikatakan, dampak dari promosi pariwisata tersebut nantinya akan banyak mendatangkan orang, sehingga akan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Perputaran uangpun akan makin meningkat di Kepulauan Mentawai. Perlu juga diketahui bahwa aktivitas Muanggau hanya ada di Bumi Sikerei, ujarnya.

“Kalau ingin makan ikan bisa dicari setiap hari, makan kepiting bakau bisa dapat dimana-mana. Namun, kalau kepiting endemik Mentawai hanya bisa dapat sekali dalam satu tahun, tepat pada bulan purnama muncul,” kata Kortanius.

Oleh karena itu, kata Kortanius, Dinas Pariwisata perlu juga membuat event lomba makan kepiting endemik Mentawai. Aktivitas Muanggau tersebut bisa dilakukan pada bulan Juli hingga September. Artinya, masyarakat Mentawai bisa makan kepiting endemik hanya tiga kali dalam satu tahun.

Ia menambahkan, pada aktivitas Muanggau, masyarakat Mentawai mencari anggau pada malam hari saat bulan purnama muncul. Bila sudah menjadi agenda setiap tahun, masyarakat Mentawai harus bisa menjaga keunikan budaya yang ada, tuturnya.

Yang tak kalah pentingnya, mencari anggau tidak hanya dilakukan dalam festival saja. Alangkah baiknya, bila putra-putri Mentawai yang mempunyai ilmu perikanan bisa melakukan penelitian untuk dijadikan budidaya kepiting endemik serta mengembangbiakkannya. (ers)

Berita Terkait

Leave a Reply