Bahan Pangan Masih Terkendali, Tekanan Inflasi Diprakirakan Moderat
  • Home
  • Berita
  • Bahan Pangan Masih Terkendali, Tekanan Inflasi Diprakirakan Moderat

Bahan Pangan Masih Terkendali, Tekanan Inflasi Diprakirakan Moderat

puji-atmoko-kepala-bi-sumbar
PADANG – Kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) dan kelompok barang yang diatur pemerintah (administered price) mampu meredam laju inflasi bulanan Sumatera Barat pada bulan Maret 2017. Pergerakan harga bulanan volatile food dan administered price masih mengalami deflasi meskipun tidak sedalam deflasi pada Pebruari.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat Puji Atmoko, Selasa (4/4) Sumatera Barat mulai mengalami inflasi tipis pada Maret 2017 sebesar 0,02 persen (month to month/ mtm). Pergerakan harga bulanan volatile food pada Maret 2017 tercatat deflasi sebesar 0,05 persen (mtm), tidak sedalam di bulan Pebruari sebesar 2,05 persen (mtm).

“Deflasi kelompok pangan bergejolak disumbang oleh turunnya harga cabai merah, teri basah, petai, cabai rawit, ayam hidup, telur ayam ras dan cabai hijau,” terangnya.

Cabai merah memberi andil deflasi sebesar 0,28 persen (mtm) dan teri basah menyumbang deflasi 0,02 persen (mtm). Sementara petai, cabai rawit, ayam hidup dan telur ayam ras serta cabai hijau memberi andil deflasi masing-masing 0,01 persen.

“Penurunan harga komoditas tersebut khususnya cabai merah sebagai akibat melimpahnya pasokan di pasar seiring dengan masih berlanjutnya panen raya,” ujarnya.

Dia menambahkan, penurunan harga kelompok volatile food sedikit tertahan dengan kenaikan harga ikan tongkol, jengkol, bawang merah, daging ayam ras, nila, pisang, jeruk dan beras. Beras memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,01 persen, kemudian jeruk, pisang dan ikan nila masing-masing sebesar 0,02 persen. Daging ayam ras memberi andil inflasi bulanan sebesar 0,03 persen, bawang merah dan jengkol masing-masing 0,04 persen dan ikan tongkol 0,06 persen (mtm).

Pada kelompok administered price, lanjutnya, terjadi deflasi di bulan Maret 2017 sebesar 0,04 persen (mtm) dari yang sebelumnya inflasi 0,93 persen (mtm) di Pebruari 2017. Penurunan harga pada kelompok ini disumbang oleh angkutan udara yang memberi andil deflasi 0,07 persen (mtm) seiring dengan masuknya periode low season.

Penurunan lebih dalam pada kelompok administered price ini tertahan oleh kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen (mtm) seiring dengan pencabutan subsidi lanjutan untuk golongan rumah tangga mampu berdaya 900 VA.

Pada kelompok inti (core), terjadi peningkatan harga di Maret 2017 sebesar 0,08 persen (mtm), dengan laju yang lebih rendah dibandingkan Pebruari 2017 yang mencapai 0,30 persen (mtm). Peningkatan harga kelompok inflasi inti ini disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan yang memberi andil inflasi sebesar 0,03 persen (mtm) meskipun sedikit tertahan dengan penurunan tarif pulsa ponsel yang memberi andil deflasi bulanan sebesar 0,06 persen dan penurunan harga batu bata yang memberi andil deflasi sebesar 0,01 persen (mtm).

Puji melanjutkan, secara keseluruhan, dari inflasi bulanan sebesar 0,02 persen, kelompok bahan pangan bergejolak dan administered price memberi andil bulanan masing-masing sebesar -0,01 persen. Sedangkan kelompok inti (core) memberi andil inflasi sebesar 0,04 persen.

Dia menyebutkan, tekanan inflasi ke depan diprakirakan cukup moderat. Sumber tekanan inflasi utama berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak khususnya cabai merah yang telah memasuki akhir panen pada bulan Maret 2017, sehingga pasokannya diprakirakan sedikit terganggu. Namun demikian, risiko gangguan cuaca diprakirakan cukup rendah seiring prakiraan cuaca BMKG pada bulan April 2017 yang menunjukkan curah hujan pada level menengah di wilayah Sumatera Barat dan menengah ke rendah di wilayah Jawa.

“Pada kelompok barang yang diatur pemerintah, risiko inflasi masih bersumber pada Tarif Tenaga Listrik, seiring dengan kecenderungan naiknya harga minyak dunia disertai gejolak nilai tukar Rupiah. Pada kelompok inti, pergerakan harga diprakirakan relatif stabil,”tutupnya. (feb)

Berita Terkait

Leave a Reply