
LIMAPULUH KOTA – Bayi berusia dua hari meninggal dunia di Puskesmas Kecamatan Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat saat banjir menerjang wilayah itu, Kamis (2/3) lalu. Bayi tersebut sedang berada di dalam inkubator pada saat kejadian dan tidak sempat diselamatkan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (5/3) pukul 23.17 malam menyampaikan perihal meninggalnya bayi tersebut berdasarkan informasi dari Posko.
“Bayi meninggal di Puskesmas Pangkalan. Kronologinya, setelah proses kelahiran, bayi dimasukkan ke inkubator pada Rabu (1/3). Saat masih dalam inkubator, tiba-tiba air deras masuk dan merendam Puskesmas sehingga tidak bisa diselamatkan pada Kamis (2/3),” terang Sutopo.
Dia menambahkan, saat kejadian listrik padam karena banyak tiang listrik roboh terkena longsor.
Dengan demikian, lanjutnya, korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Kabupaten limapuluh Kota menjadi enam orang dan dua orang luka berat. Empat korban meninggal karena tertimbun longsor, satu korban meninggal karena hanyut terseret banjir dan satu korban yaitu bayi berusia dua hari terendam banjir.
Enam korban meninggal dunia karena tertimbun longsor adalah Doni Fernandes (33), Teja (19), Yogi Saputra (23), dan Karudin (25). Sementara korban banjir adalah Muklis (45) meninggal karena hanyut serta bayi berusia dua hari karena terendam di Puskesmas Pangkalan.
Sementara, korban luka berat karena longsor adalah Syamsul Bahri (22) dan Candra (42).
Banjir terjadi di 12 titik lokasi di Kabupaten Limapuluh Kota sementara longsor terjadi di 13 titik. Longsor tersebar di 9 titik di Kecamatan Pangkalan. Sedangkan banjir tersebar pada 7 kecamatan dengan titik banjir tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan.
Banjir disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, sungai Batang Kapur di Kecamatan Kapur IX, sungai Batang Sinamar di Lareh Sago Halaban dan sungai Batang Harau di Kecamatan Harau. (feb/*)






