
SAWAHLUNTO – Gema pencanangan Kampung Keluarga Berencana (KB) oleh Presiden Joko Widodo sampai ke Kota Sawahlunto. Ditandai dengan dicanangkannya Desa Lumindai Kecamatan Barangin sebagai Kampung KB.
Pencanangan tingkat nasional dilakukan Presiden Jokowi di Dusun Jenawi Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 14 Januari 2016 lalu. Sementara, Kampung KB di Sawahlunto diresmikan oleh Wakil Walikota Ismed di Dusun Pasar Mudik, Desa Lumindai, Kamis (14/4).
“Sebenarnya program KB di Kota Sawahlunto sudah berjalan baik. Namun, masih ada beberapa program KB yang belum berjalan dengan baik. Dengan adanya kampung KB ini diharapkan bisa lebih mematangkan keluarga di Lumindai dalam merencanakan masa depan,” kata Ismed pada peresmian yang dihadiri Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (PMPKB) Sawahlunto, Adri Yusman, Camat Barangin Adrius Putra dan Kepala Desa Lumindai, Khairunnas.
Ismed menilai, berbagai terapan program KB sudah dijalankan masyarakat setempat, seperti layanan kontrasepsi, kelompok bina keluarga balita (BKB), bina keluarga remaja dan bina keluarga lansia. Wawako meminta agar program tersebut lebih dioptimalkan lagi. Pembinaan dan pendampingan harus dilakukan secara terus menerus. Ia juga minta semua SKPD dan instansi lain harus fokus untuk mewujudkan cita cita Kampung KB ini.
“KB bukan sekedar membatasi angka kelahiran, namun juga ada kepentingan jangka panjang untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Kegiatan peningkatan pendapatan keluarga juga terdapat pada program tersebut,” kata Ismed.
Kampung KB merupakan salah satu inovasi strategis dalam upaya realisasi pelaksanaan kegiatan kegiatan program KB. Selain itu, juga sebagai upaya membudayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan total program KB, sebagai upaya mewujudkan keluarga sejahtera yang berkualitas.
Pada kesempatan itu, Kepala Kantor PMPKB Sawahlunto, Adri Yusman berharap agar program tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara menyeluruh di masyarakat, sehingga upaya pemerintah untuk menyadarkan warga akan pentingnya KB bisa berjalan lebih maksimal.
Dia menambahkan, dipilihnya Desa Lumindai sebagai Kampung KB di Sawahlunto karena masih adanya beberapa program KB yang belum terealisasi secara optimal di daerah setempat. Selain itu, jumlah penduduk dan angka kemiskinan yang cukup tinggi termasuk angka kelahiran yang tinggi dibanding daerah lainnya.
“Pasangan Usia Subur di Lumindai sebanyak 105 pasang dengan persentase keikutsertaan ber-KB sekitar 55,2 persen. Sedangkan keikutsertaan pria untuk ber-KB masih sangat rendah, yakni 3,8 persen saja,” sebut Adri Yusman.
Mantan Camat Silungkang ini menambahkan, secara nasional angka kelahiran penduduk sebesar 2,6 persen dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 persen. Sedangkan untuk Kota Sawahlunto sedikit di bawah angka nasional tersebut dimana angka kelahiran sebesar 2,4 persen dan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,01 persen.
Ke depan, warga Lumindai diharapkan akan semakin sadar akan pentingnya program KB. Apalagi, dukungan dan partisipasi dari pemerintah desa, tokoh masyarakat, kader KB dan pengelola program pembangunan di Desa Lumindai yang sangat tinggi, akan dapat lebih memudahkan akses pelayanan kepada keluarga atau masyarakat. Termasuk dalam hal informasi pelayanan KB dalam mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. (tumpak)






