
SAWAHLUNTO – Kota Sawahlunto terkenal dengan masyarakat multi etnisnya. Salah satunya suku Jawa yang masih mempertahankan tradisinya sampai sekarang.
Ulem-ulem atau undangan merupakan tradisi Jawa yang masih mudah ditemukan di Kota Sawahlunto.Namun kini, tradisi itu bukan
hanya milik suku Jawa yang ada di kota itu.
Tradisi ulem-ulem merupakan undangan pernikahan maupun
perhelatan khitanan, turun mandi atau aqiqah anak. Yang menerimanya
adalah kalangan terdekat atau masih tetangga satu daerah.
Ulem-elem atau undangan dalam bentuk secarik kertas ukuran 4
cm x 3 cm itu lazim tertulis hari, tanggal dan pukul acara digelar berikut nama tuan rumah.Juga tertulis permintaan restu dari para tamu.
Tak lupa, pada ulem-ulem tersebut biasanya disematkan permen.
Warga Pasarbaru Kelurahan Durian I, Arifin Ahmad membenarkan tradisi ulem-ulem yang sudah menjadi kelaziman di Sawahlunto. “Kalau
sekarang, setiap ada pernikahan, khitanan atau aqiqah warga, terbiasa
menyampaikan undangan melalui ulem-ulem,” sebut Arifin kepada padangmedia.com sambil
memperlihatkan ulem-ulem dari kerabatnya.
Seorang warga Santur, Febrianti (39) juga membenarkan kalau ulem-ulem sudah menjadi tradisi untuk menyampaikan undangan pernikahan maupun aqiqah di daerahnya.
Ibu asal Payakumbuh itu saat menggelar aqiqah anaknya juga mengundang kerabatnya dengan menyebar ulem-ulem. “Waktu aqiqah anak kami yang kedua juga pakai ulem-ulem untuk sekitar Santur dan Sungai Durian. Banyak juga yang datang,” sebutnya, Selasa (10/7). (tumpak)






