PADANG – Pedagang Pasar Raya Padang berharap iven Tour de Singkarak di tahun-tahun mendatang agar dievaluasi pelaksanaanya. Karena, pada etape I TdS tahun ini, warga, termasuk pedagang Pasar Raya kehilangan begitu banyak waktu akibat penutupan jalan.
“Jangan sampai digadang-gadang oleh Pemko sebagai iven yang memberikan dampak positif, malah kenyataannya banyak dicibir oleh warga. Hal ini didasari apa yang terjadi pada etape I Sabtu lalu di mana ruas jalan utama di kota ini ditutup mulai dari pukul 11 sampai 16 WIB, sehingga sangat merugikan warga,” ujar salah seorang pedagang kelontong di Pasar Raya Padang, Ibnu (38).
Menurutnya, banyak kerugian yang dirasakan oleh para pedagang, terutama kerugian materi. “Kalau jalan ditutup dari pagi sampai siang, otomatis omset penjualan kami berkurang,” katanya kepada padangmedia.com, Rabu (7/10).
Apalagi, katanya, para pedagang biasanya pagi datang ke pasar untuk membuka toko. Dengan sangat lamanya waktu penutupan jalan, tentu akan menghambat pedagang serta pembeli.
Ibnu juga mengungkapkan rasa kecewanya. Sudahlah dibiayai oleh uang rakyat, tapi hanya bisa membuat rakyat sengsara karena jalanan kota ditutup dua sampai 3 jam sebelum pebalap melintas dan otomatis melumpuhkan jual beli pedagang.
“Sebaiknya pemko mengkaji ulang kembali pelaksanaan ini, apakah jalur yang dipakai ini sebaiknya hanya sejalur. Sehingga tidak memiliki dampak sosial dan masyarakatpun tidak terganggu,” katanya.
Sebelumnya, keluhan yang sama juga dinyatakan oleh warga dari berbagai kalangan, seperti sopir angkot, pelajar dan lain-lain. Keluhan tentang hal itu banyak pula bertebaran di media sosial. (baim)






