
MENTAWAI – Seorang petani di Kabupaten Kepulauan Mentawai mengembangkan jenis pisang mamban randah. Pisang yang terbilang jarang ditemukan di Mentawai tersebut berhasil dikembangkan di Km 2 Sipora Utara, Tuapeijat.
Petani yang sudah berhasil memanen pisang mamban untuk kelima kalinya itu, Suharman, mengaku awalnya mendapatkan bibit dari Padang. Saat ini, pisang mamban randah ditanam di belakang rumahnya dengan luas kebun seperempat hektar.
“Perawatannya sangat mudah dan tidak rumit. Hanya lima bulan sudah berbuah. Selain itu, jenis pisang itu sangat mudah dipasarkan. Walaupun tidak bisa untuk digoreng, tapi rasanya sangat enak,” kata Suharman yang juga Ketua Ormas Pekat Indonesia Bersatu Kabupaten Kepulauan Mentawai, kepada padangmedia.com, Jumat (24/6) saat ditemui di kebunnya.
Menurutnya, banyak masyarakat yang tidak tahu kalau pisang mamban randah sudah ada di Mentawai. Namun, saat masyarakat melihat hasil perkebunan pisangnya, banyak yang berminat untuk meminta bibitnya.
“Kalau dikembangkan di Mentawai tentu sangat bagus. Satu tandan pisang bisa mencapai 12 sisir dan dalam satu sisir buahnya bisa sampai 25 buah,” katanya lebih jauh.
Kalau ada tanah satu hektare, ungkap Suharman, maka seorang petani bisa mengolah pisang tersebut. Dengan jarak tanam hanya 2 meter, bisa ditanami ribuan pisang. Penghasilannya bisa melebihi dari gaji pegawai negeri.
Selama ini, kata Suharman, petani di Kepulauan Mentawai tidak fokus dalam bercocok tanam. Seharusnya pemerintah lebih memberi bimbingan karena kehidupan masyarakat Mentawai paling banyak bertani. Selayaknya, ada lahan yang dijadikan percontohan dan diberikan pendampingan. Kehidupan masyarakat Mentawai selama ini banyak bergantung dari bercocok tanam. Sayangnya, mereka hanya berjalan sendiri-sendiri tanpa pendampingan dari pemerintah. (ers)






