PADANG – Provinsi Sumatera Barat memiliki berbagai potensi di sektor industri, terutama industri hilir dari produk pertanian, perkebunan, perikanan dan sebagainya. Hilirisasi produk sektor-sektor utama tersebut perlu dilakukan agar tidak selalu memasarkan bahan baku.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat Hendra Irwan Rahim mengungkapkan, memacu sektor industri untuk memberikan kontribusi kepada perekonomian daerah membutuhkan keterlibatan semua pihak. Tidak saja investor, tenaga ahli di sektor industri seperti insinyur juga sangat penting.
“Sektor utama di Sumbar adalah pertanian, perkebunan, perikanan dan lainnya. Ini perlu dipikirkan untuk mengembangkan sektor industri sebagai hilirisasi dari sektor utama tersebut yang tentunya membutuhkan peran semua pihak,” kata Hendra, Kamis (7/12).
Dia menambahkan, sektor industri di Sumbar saat ini belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Sementara perkembangan ekonomi global sangat besar ditopang oleh sektor tersebut.
Seiring itu, dijadikannya Kota Padang sebagai tuan rumah kongres Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ke 21 diharapkan membawa angin segar bagi pertumbuhan industri di Sumatera Barat. Kongres tersebut dihadiri oleh ratusan insinyur dari seluruh Indonesia.
Kongres dihadiri oleh Wakil Prsiden RI Jusuf Kalla dan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hertanto. Dalam sambutannya, Menperin RI Airlangga menyampaikan, Para insinyur adalah orang-orang yang kreatif dan inovatif, serta terbiasa menyelesaikan masalah. Jadi, insinyur harus bisa menemukan peluang dan melahirkan inovasi di era digital saat ini. Adapun peran pemerintah, memberikan fasilitas dan kesempatan.
Di acara yang mengusung tema “Meningkatkan Profesionalisme Sumber Daya Keinsinyuran dan Penerapan Teknologi Cerdas: Mewujudkan Kedaulatan Industri Indonesia”, Menperin menyebutkan ada lima teknologi utama yang menjadi kunci dalam impelementasi industri 4.0. “Yaitu, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Wearable (AR/VR), Advanced Robotics, dan 3D Printing,” tuturnya.
Untuk itu, Airlangga berharap, para insinyur terus memberikan kontribusi signifikan dalam membangun Indonesia khususnya terhadap pengembangan industrialisasi.
“Apalagi kita sedang mengembalikan sektor manufaktur menjadi arus utama guna menggerakkan perekonomian nasional,” jelasnya.
Faktor penting yang diperlukan, selain pemanfaatan teknologi, yaitu menyiapkan tenaga kerja kompeten. Langkah tersebut telah tertuang di peta jalan Making Indonesia 4.0, yang memiliki aspirasi besarnya untuk menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. (fdc)






