Masyarakat Gunung Pangilun Terus Tumbuhkan Nilai-nilai ABS-SBK
  • Home
  • Berita
  • Masyarakat Gunung Pangilun Terus Tumbuhkan Nilai-nilai ABS-SBK

Masyarakat Gunung Pangilun Terus Tumbuhkan Nilai-nilai ABS-SBK

PADANG – Masyarakat Gunung Pangilun patut mendapat penilaian khusus terkait implementasi falsafah Adat Basandi Syarak -Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Betapa tidak, meskipun kelurahan yang termasuk Kecamatan Padang Utara ini berada di wilayah perkotaan, namun nilai-nilai falsafah Minangkabau masih tetap ditumbuhkan.
“Di Gunung Pangilun ini penduduknya sudah membaur. Sebagian besar merupakan masyarakat urban atau warga perantau. Akan tetapi nilai-nilai adat dan agama sesuai ABS-SBK dalam falsafah minangkabau masih hidup,” kata Camat Padang Utara Editiawarman disela pertemuan dengan para pengurus RT/RW Kelurahan Gunung Pangilun di kantor lurah setempat, Jumat (21/9/2018).
Menurut Editiawarman, nilai-nilai ABS – SBK bisa saja tergerus karena kemajuan informasi dan pembauran kultur yang terjadi. Disinilah fungsi Camat dan Lurah untuk menjaga nilai-nilai tersebut terus ditumbuhkan dalam masyarakat.
“Melalui komunikasi dan koordinasi dengan tokoh adat dan pemuka agama, camat dan lurah selaku pemimpin mestinya membangun sinergi untuk menjaga nilai-nilai ABS-SBK terimplementasi di tengah masyarakat,” ujar Editiawarman.
Dalam kesempatan ini, Camat Editiawarman didampingi Lurah Gunung Pangilun Andi Amir menyerahkan honor triwulan ketiga bagi RT dan RW serta kader sekelurahan tersebut. Sekaligus memberikan sosialisasi terkait nilai-nilai ABS-SBK.
“Intinya, semua tokoh-tokoh masyarakat (Ketua RT dan RW) ini kita rangkul untuk menyamakan persepsi terkait konsep madani dan penerapan falsafah Minangkabau yang dijunjung tinggi sejak dulu,” imbuh camat.
Sementara itu, Lurah Andi Amir mengungkapkan, konsep madani yang diusung Kelurahan Gunung Pangilun merupakan komitmen sejak 2016 lalu. Konsep madani tersebut diisi dengan terus melakukan pembinaan masyarakat melalui majelis taklim, kegiatan keagamaan, prosesi adat dan seremonial lainnya yang berakar dati budaya lokal.
“Terakhir, bersama pemuka masyarakat meliputi tokoh adat dan agama kami membentuk Forum Konsultasi Sumbang Duo Baleh,” ungkap Andi.
Dijelaskan, Forum Konsultasi Sumbang Duo Baleh bertujuan memberikan pembekalan pemahaman terhadap generasi muda terkait adab berperilaku di Minangkabau. Ada dua belas cara bersikap yang sejogyanya dipakai para calon bundo kanduang dan rang mudo parik paga nagari dalam kehifupan ini. Diantaranya, cara duduk, cara makan, cara bicara, cara berdiri dan sebagainya yang tidak boleh sumbang atau tidak patut.
“Forum ini memang baru terbentuk, namun dalam situasi informal, di lingkungan keluarga masing-masing bisa diterapkan. Misalnya, dari orang tua terhadap anaknnya, dari mamak terhadap kemenakannya atau oleh para guru terhadap murid-muridnya,” ulas Andi Amir. (der)

Berita Terkait

Leave a Reply