Kisruh Saat Paripurna Akan Jadi Evaluasi Pimpinan
  • Home
  • Berita
  • Kisruh Saat Paripurna Akan Jadi Evaluasi Pimpinan

Kisruh Saat Paripurna Akan Jadi Evaluasi Pimpinan

PADANG – Terkait kisruh yang terjadi pada paripurna penutupan masa sidang II dan pembukaan masa sidang III DPRD Padang tahun 2015, Senin(31/8), anggota DPRD Padang, Helmi Moesim menyayangkan hal itu terjadi.

Bukan berarti ia tidak sepakat dengan apa yang telah disampaikan anggota dewan lainnya, namun menurutnya hal itu harus menjadi catatan untuk dibahas pada masa sidang berikutnya.

“Rangkaian sidang saat ini kan sudah teragendakan sebelumnya. Jika berkutat terus di situ, maka semua agenda lainnya juga molor. Artinya, kenapa tidak dibahas sebelum-sebelumnya. Ini adalah penyampaian hasil laporan selama masa sidang II tahun 2015,” ujar Helmi.

Sementara, terkait protes anggota dewan lainnya menyangkut banyaknya surat yang menumpuk di meja pimpinan, menurutnya masih ada pimpinan DPRD lainnya. Keterpilihan pimpinan dewan itu kolektif kolegial. Jadi, selain Ketua DPRD Erisman, ada pimpinan lainnya. “Jadi, tidak usah kita ribut seperti-seperti ini,” tegas Wakil Ketua Komisi III ini.

Sementara, anggota DPRD Padang lainnya, Oesman Ayub mengatakan, ini merupakan kekeliruan yang dapat menginjak diri sendiri. Menurutnya, rangkaian sidang paripurna dengan rangkaian agenda tutup masa sidang II dan pembukaan masa sidang III dicampuri dengan hal lainnya atau mengorek ketidakjelasan atau transparansi, bukan di sini ranahnya, katanya.

 “Keliru teman-teman dalam hal ini. Sama halnya tidak mengakui apa yang telah dilakukan teman-teman selama masa sidang. Sementara, telah ada kesepakatan, seharusnya malu dengan apa yang terjadi. Ini rapat mengundang SKPD Pemko, sehingga menjadi bahan cemohohan di luar,” ungkap Oesman Ayub dari Fraksi Hanura ini.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Padang, Asrizal selaku pimpinan rapat paripurna penutupan masa sidang II dan pembukaan masa sidang III DPRD Padang saat dihubungi sangat menyayangkan kondisi rapat tersebut. Dalam rapat, dia berungkali menyatakan akan dibahas dalam rapat internal dan pimpinan, namun tetap ditolak. Bahkan, palu kesepakatan yang telah diketoknya, kembali mentah sebelum rapat tesebut dipending.

Menurutnya, anggota dewan telah mempermalukan diri mereka sendiri. Terlihat, tidak adanya persatuan antar pimpinan dan anggota dewan. Meski begitu, katanya, semua yang dijumpai tidak lain merupakan sebuah proses diri untuk lebih baik ke depannya, kata Asrizal.

Selain Asrizal, hadir pula dua pimpinan lain dalam paripurna tersebut, yakni Wahyu Iramana Putra dan Muhidi. Pada kesempatan itu, Muhidi membenarkan bahwa kinerja seseorang akan terukur dari laporannya.

Untuk itu, usulan yang disampaikan oleh anggota dewan akan menjadi bahan evaluasi. Harus dibuatkan sebuah sistem pelaporan tersistem ke depannya.

“Ini cambuk bagi pimpinan. Akan menjadi bahan evaluasi dan merubah sikap bagi pimpinan,” katanya. (baim)

Berita Terkait

Leave a Reply