
TANAH DATAR – Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat bakal memiliki sebuah sekolah tenun representatif. Sekolah itu menjadi sekolah tenun yang pertama di Sumbar (sebelumnya sudah ada pelatihan tenun di Pandai Sikek, red), dan mungkin yang termegah di Indonesia. Selama ini, kebanyakan yang ada hanya berupa rumah-rumah tenun ataupun pelatihan.
Terletak di lahan yang cukup luas di pinggir jalan raya Tigo Jangko, Kecamatan Lintau Buo, sekolah tenun tersebut berdiri megah dengan dua bangunan yang baru selesai. Satu bangunan merupakan bangunan utama tempat belajar siswa. Sementara, satu bangunan lainnya merupakan rusunawa atau asrama bagi masyarakat yang belajar tenun di tempat itu. Fasilitas rusunawa pun tidak seperti rusunawa biasa. Fasilitasnya, seperti dikatakan Dirjen Pengadaan Perumahan Kementerian PUPR, Halawi Abdul Halim, sudah seperti apartemen mewah.
Menjelang diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang direncanakan 8 Mei 2018, sekolah tenun tersebut ditinjau oleh Mufidah Jusuf Kalla, Kamis (13/4). Keberadaan sekolah tenun itupun tak lepas dari peran Jusuf Kalla dan Mufidah.
Mufidah melalui humas Sekretariat Wapres RI, Jery Wongiyanto, mengatakan, itu bahkan sudah menjadi keinginannya dari dulu, yaitu berdirinya sebuah sekolah tenun di tanah kelahirannya. Apalagi, sekolah tenun
itu memiliki instruktur- instruktur berpengalaman yang merupakan jebolan perguruan tinggi terkenal di Indonesia dan dari luar negeri. Dari sekolah tenun tersebut diharapkan bisa melahirkan penenun-penenun handal dan produk tenun yang berkualitas.

Menurut Mufidah, kehadiran sekolah tenun tersebut berawal dari keinginan untuk melestarikan tenun Lintau yang memiliki ciri khas sendiri, salah satunya menggunakan pewarna alami.
Seperti dikatakan salah seorang instruktur, Atitje Sutan Aswar, pewarnanya berasal dari tanam-tanaman, seperti daun rambutan, nangka, manggis, dan lainnya. Karena itu, warna-warga yang dihasilkan pun warna-warna natural.
Tenun Lintau, kata Atitje kepada padangmedia.com, berbeda dengan produk lain. Terutama dalam hal disain/motif dan warna. Pewarnaan tenun Lintau dari bahan-bahan alami. Motifnya merupakan motif-motif adat yang bisa dijadikan untuk keperluan adat serta bisa dijadikan suvenir.
“Siapapun boleh belajar di sini. Mereka nanti akan bisa merenda, sulam, dan tenun,” kata Atitje yang sudah sejak tahun 1996 menjadi instruktur tenun.

Sementara itu, menurut Dirjen Pengadaan Perumahan Kementerian PUPR, Halawi Abdul Halim, pembangunan rusunawa untuk sekolah tenun tersebut menelan biaya sekitar Rp9,5 miliar. Dana itu selain untuk bangunan, juga untuk taman serta taman buahnya. Adapun bangunan gedung beserta perlengkapannya sudah menyerupai apartemen mewah.
Kepala Dinas Koperindag Tanah Datar, Abdul Hakim ditemui di tempat yang sama menerangkan, pembangunan sekolah tenun tersebut melalui dana DAK dari Kementerian Perindag dengan anggaran sebesar Rp1,4 miliar. Sedangkan rusunawa dibantu oleh Kementerian PUPR yang menyediakan anggaran sebesar Rp9 miliar lebih.
Menurut Abdul Hakim, untuk saat ini sudah ada 40 siswa dari Lintau yang mendaftar untuk belajar tenun. “Di sini, metodanya teori dan praktik. Nanti akan dibuat produk contoh, kalau laku baru diproduksi lebih banyak,” jelasnya. (rin)






