Penyandang Disabilitas di Kota Padang Dilatih Evakuasi Saat Bencana
  • Home
  • Berita
  • Penyandang Disabilitas di Kota Padang Dilatih Evakuasi Saat Bencana

Penyandang Disabilitas di Kota Padang Dilatih Evakuasi Saat Bencana

PADANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang berupaya meningkatkan kapasitas pengurangan resiko bencana secara inklusif. Para penyandang disabilitas juga dibekali pelatihan mitigasi dan evakuasi, minimal mampu mereka bisa mengevakuasi dirinya sendiri saat bencana terjadi.

“Pelatihan peningkatan kapasitas pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat secara inklusif kami gelar dua hari, sejak kemarin. Diikuti organisasi disabilitas yang berada di Kota Padang, dengan harapan, saat bencana terjadi mereka bisa mengevakuasi dirinya sendiri,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang Dr. Edi Hasymi di sela kegiatan yang digelar di Whiz Prime Hotel, Rabu (2/10/2019).

Peserta sebanyak 47 orang dari Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Organisai Penyandang Disabilitas (OPEDIS), Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Gerakan Tuna Rungu Indonesia (GERGATIN), Himpunan Wanita Disabiltas Indonesia) yang berada di Kota Padang.

Lebih lanjut Edi Hasymi, musibah atau ujian bisa menghampiri siapa saja. Termasuk para penyandang disabilitas. Itu artinya, mereka juga harus memiliki upaya untuk mengurangi atau meminimalisir risiko bencana.

“Yang menginspirasi kami dari BPBD Kota Padang untuk melakukan ini, karena memang bencana itu semuanya bisa kena, termasuk teman-teman disabilitas,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan penyandang disabilitas. Sebab tidak bisa dipungkiri, selama ini penyandang disabilitas lebih banyak menjadi objek evakuasi.

“Kalau kita bicara masalah evakuasi, individu kan berhak mengevakuasi, nah itu yang ingin kita capai. Bagaimana teman-teman bisa mengevakuasi dirinya dan menolong yang lain,” tambahnya.

Sedangkan menurut Drs Henry MM selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, dalam pelatihan tersebut, peserta diajak untuk memahami tentang apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana. Khususnya banjir dan gempa.

Selain itu, mereka juga diajak praktik langsung. “Jadi apa yang kita perdengarkan ke mereka, itu yang akan kita sentuhkan ke mereka. Ini jalur evakuasi, ini suara sirine tanda bahaya,” lanjutnya.

Pelatihan PRB Inklusif dilakukan secara bertahap. Menurut Henry, penyandang disabilitas memerlukan waktu lebih lama untuk mengenal hal baru.

“Ini kan hal baru di kota Padang karena kita berpijak pada kejadian gempa di Chile yang mana jumlah korban jiwa turun drastis dari awal terjadinya Gempa dan Teunami 4 tahun setelah Gempa tsunami melanda bagaiamana Pemerintah setempat secara giat melakukan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) sehingga kejadiannyapun tidak banyak merenggut korban jiwa, jadi untuk memasukkan hal-hal baru seperti ini butuh proses yang agak panjang. Jadi saat ini cenderungnya kita masih proses penyadaran, kenapa sih ada PRB inklusif,” pungkas Henry. (der)

Berita Terkait

Leave a Reply