
PADANG – Tidak banyak yang tahu eksistensi Sasaran Silek (perguruan silat) Harimau Gunung di Banda Gadang, Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara karena sempat mati suri. Tetapi, setahun belakangan, perguruan silat yang pernah melegenda itu kembali “mengaum” menunjukkan eksistensinya melalui prestasi.
“Harimau Gunung harus terus eksis demi melestarikan seni beladiri dan budaya lokal. Keberadaannya menjadi wadah berkreasi bagi generasi muda, juga mendekatkan mereka kepada budaya Minangkabau sekaligus ajang pembinaan raga serta spiritual,” kata Wakil Ketua DPRD Kota Padang Wahyu Iramana Putra saat menghadiri acara syukuran prestasi atlet silat Sasaran Silek Harimau Gunung di Banda Gadang, Sabtu (6/10/2018) malam.
Semenjak diaktifkan kembali sekitar 1,5 tahun yang lalu, perguruan silat ini terus berkembang. Banyak menuai pretasi yang membanggakan, di antaranya medali perak Kejuaraan antar Pelajar Sumbar, Riau dan Jambi yang diraih Nur Fatimah Wirti, kemudian meraih medali perak kejuaraan pelajar yang diadakan oleh Unand. Serta medali emas yang diraih oleh Debyona pada Kejuaraan antar Usia Dini se-Kota Padang.
Pada acara syukuran atas prestasi atlet itu, turut hadir Lurah Gunung Pangilun Andi Amir dan Bhabinkamtibmas Yendri Nasution serta sejumlah tokoh masyarakat.
Lurah Gunung Pangilun Andi Amir mengatakan, perkembangan Sasaran Silek Harimau Gunung sangat menggembirakan. Antusias masyarakat juga cukup baik dengan aktifnya sasaran silek ini. Para orang tua semakin tertarik menyerahkan anak-anaknya untuk dibina dan dilatih di perguruan silat tersebut.
“Aktifnya kembali Sasaran Silek Harimau Gunung turut meningkatkan antusiasme masyarakat untuk belajar ilmu beladiri tradisional terutama generasi muda. Selain mendapatkan ilmu beladiri di sini generasi muda juga dibina mental dan spritualnya. Terlebih lagi nanti bisa berprestasi melalui ajang kompetisi silat,” ulas Andi Amir.
Selama ini, lanjut Andi Amir, pihak kelurahan turut berupaya agar sasaran silek yang dulunya sangat terkenal ini bisa aktif kembali. Dengan upaya-upaya yang dilakukan diantaranya mengkomunikasikan dengan pengurus sasaran silek serta tuo silek.
“Kami di kelurahan beraama para tuo silek dan pengurus mencoba upaya mengkomunikasikan dengan Pemko dan anggota DPRD. Rupanya mendapatkan respon baik sehingga pengurus bersemangat untuk mengoperasikan kembali sasaran silek itu,” ujarnya.
Untuk diketahui, silek adalah nama Minangkabau buat seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan silat. Silat adalah salah satu dasar pendidikan penting disamping pendidikan agama Islam yang harus dipelajari anak laki-laki di Minangkabau.
Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspresi etnis Minang. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek, antara lain: Silek Kumango, Silek Lintau, Silek Tuo, Silek Sitaralak, Silek Harimau, Silek Pauh, Silek Sungai Patai, Silek Luncua, Silek Gulo Gulo Tareh, Silek Baru dan Silek Ulu Ambek. (der)






