JAKARTA – Kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) masih menjadi sumber utama pemicu inflasi di Indonesia, bersama kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices). Karakteristik inflasi ini berbeda dengan negara lain yang sudah maju dimana bahan pangan tidak lagi dominan menjadi sumber pemicu inflasi.
Deputi Direktur Regional I Bank Indonesia Harry. S. Baskoro dalam Temu Wartawan Ekonomi Daerah se Indonesia, Senin (10/10) mengungkapkan hal itu. Menurutnya, komoditas pangan utama penyumbang inflasi antara lain adalah beras, daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras dan bawang merah.
“Dari kelompok harga yang diatur pemerintah, tarif listrik, angkutan udara, bensin sampai rokok kretek dan rokok filter merupakan komponen yang dominan mempengaruhi inflasi,” katanya.
Pola inflasi, lanjutnya, cenderung dipengaruhi musiman seperti pada awal tahun, pertengahan tahun dan di akhir tahun. Pada Januari hingga Maret, inflasi tinggi terjadi seiring periode liburan tahun baru yang didorong oleh tekanan permintaan komoditas, transportasi, makanan maupun sandang.
“Curah hujan tinggi di awal tahun juga mengganggu kegiatan distribusi barng kebutuhan rumahtangga yang ikut mempengaruhi inflasi,” ujarnya.
Sementara itu, pada periode April sampai Mei, inflasi cenderung terkendali atau terjadi deflasi seiring koreksi harga, cuaca yang lebih kondusif serta panen komoditas pangan yang terjadi di daerah-daerah sentra.
Sedangkan pada periode Juni sampai Agustus, inflasi terjadi karena periode bulan puasa dan lebaran, liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Bahkan pada periode September dan Oktober, cenderung terjadi deflasi atau inflasi rendah, pasca kenaikan harga pada periode bulan puasa dan lebaran.
“Pada periode ini juga masih berlangsung panen berbagai komoditas dan dukungan cuaca yang cukup baik sehingga berdampak positif untuk menekan inflasi,” lanjutnya.
Bank Indonesia, sebutnya, mengambil peran dalam upaya pengendalian inflasi dari berbagai sisi. Selain berkoordinasi secara kelembagaan, BI juga membantu dari sisi pasokan komoditas penyumbang utama inflasi bersama petani di daerah.
“BI telah membuat semacam program pengendalian inflasi melalui klaster-klaster di sejumlah daerah dengan komoditas yang dikembangkan antara lain cabai merah, bawang merah, sapi, holtikultura, ayam, beras, perikanan dan bawang putih,” terangnya.
Beberapa permasalahan utama penyebab inflasi yang tinggi, khususnya dari sisi inflasi pangan terus dikaji melalui asesmen dan penelitian. Beberapa permasalahan tersebut menurut Harry ada yang bersifat musiman (siklikal) dan ada yang bersifat struktural.
Kenaikan harga pangan dan lainnya pada saat hari besar keagamaan, kenaikan harga pada saat cuaca buruk serta kenaikan tarif angkutan pada saat peak season merupakan permasalahan yang bersifat siklikal. Sedangkan yang bersifat struktural antara lain terihat dari kondisi daerah yang belum mandiri secara pangan, kondisi geografis sehingga membuat jalur distribusi menjadi sulit serta kondisi dan dukungan infrastruktur pangan.
Temu Wartawan Ekonomi Daerah se Indonesia diagendakan Bank Indonesia adalah dalam rangka lebih menggencarkan sosialisasi tugas dan fungsi BI dalam pengendalian inflasi, keuangan dan moneter, makroprudensial dan lainnya. Media massa dipandang BI sebagai salah satu mitra yang efektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Temu wartawan berlangsung dalam dua gelombang dengan menghadirkan lebih dari 400 wartawan dari 33 provinsi yang difasilitasi oleh 45 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia. (feb)






