Membuka Gerbang Surga Tersembunyi, Air Terjun Lubuk Hitam Semakin Berseri
  • Home
  • Artikel
  • Membuka Gerbang Surga Tersembunyi, Air Terjun Lubuk Hitam Semakin Berseri

Membuka Gerbang Surga Tersembunyi, Air Terjun Lubuk Hitam Semakin Berseri

Air Terjjun Lubuk Hitam

Waktu itu, siang menjelang sore, Rabu (16/9/2026). Gemericik air mengalir di antara bebatuan seolah dendang pelipur lara. Didukung cuaca yang terasa sejuk, tubuh menjadi terasa lebih segar. Uni Yur (50) berdiri di depan pondok sederhana, yang didirikan di tanah yang sedikit datar di pinggang bukit. Senyumnya tersungging, menyambut kedatangan pengunjung yang akan bermain ke tempat itu.

Tak jauh dari pondok Uni Yur, dari arah lubuk pemandian, terdengar riuh rendah suara anak-anak bermain air penuh kegembiraan. Tak lama, anak-anak itu dengan badan yang masih basah kuyup berlarian ke arah dagangan Uni Yur untuk membeli jajanan pengganjal perut. Kedinginan akibat bermain air lumayan membuat perut mereka keroncongan sehingga seperti tak sabaran menyerbu beragam camilan makanan ringan yang dijual Uni Yur.

Dengan sigap, Uni Yur ditemani suami dan anak gadisnya yang berusia belasan tahun melayani permintaan anak-anak tersebut. Ada yang memesan mi instan, ada juga yang hanya membeli camilan ringan untuk kudapan sambil berendam. Sementara di jalan setapak yang mendaki, beberapa orang terlihat berjalan menuju ke atas dan berpapasan dengan orang lainnya yang berjalan turun.

Uni yur air terjun lubuk hitamSudah setahun lebih Uni Yur berjualan di lokasi itu. Pondoknya berada di tingkat pertama dari tiga tingkat Air Terjun Lubuk Hitam. Air terjun tingkat pertama itu berada pada ketinggian sekitar 30 meter, sementara tingkat kedua berada di ketinggian 200 meter, dan tingkat ketiga berada di ketinggian 250 meter.

Uni Yur bercerita, sejak lokasi itu mendapat bantuan program Tanggjung Jawab Sosial dan Lingkungan (TSJL) dari Pertamina melalui IT Teluk Kabung, Air Terjun Lubuk Hitam mulai ramai pengunjung. Jika di hari biasa, paling tidak dikunjungi oleh sekitar 200 orang dan pada hari Minggu atau libur kunjungan bisa mencapai antara 600 sampai seribu orang.

“Alhamdulillah, sejak tempat ini mulai ramai dikunjungi, penghasilan pun jadi meningkat,” ungkap Uni Yur di sela kesibukannya melayani pembeli.

Ada pondok lain di depan pondok Uni Yur, dibangun agak tinggi dengan lantai papan yang difungsikan sebagai langgar (musala), lengkap dengan mukenah dan sajadah yang disediakan untuk pengunjung. Pengunjung bisa menunaikan kewajiban beribadahnya di langgar tersebut ketika masuk waktu salat.

Cerita tentang Uni Yur adalah gambaran bagaimana ekonomi masyarakat ikut menggeliat seiring berkembangnya objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam. Selain Uni Yur, ada juga pedagang gorengan, pedagang kopi, dan warung makanan di sepanjang perjalanan menuju lokasi. Seiring ramainya kunjungan ke Air Terjun Lubuk Hitam, masyarakat setempat memanfaatkannya sebagai peluang usaha mencari rejeki untuk tambahan penghasilan keluarga.

Air Terjun Lubuk Hitam, Objek Wisata Alam Semula Jadi

Air Terjun Lubuk Hitam merupakan salah satu dari sekian banyak objek wisata di Kecamatan Bungus Teluk Kabung. Selain Lubuk Hitam, ada juga objek wisata pantai yang tak kalah cantiknya karena kecamatan tersebut berada di pesisir pantai barat Sumatera. Untuk mencapai lokasi Air terjun Lubuk Hitam, dapat dilakukan dengan perjalanan darat sekitar 30 menit dari Kota Padang menyusuri Jalan Lintas Sumatera Padang-Painan. Selepas Kantor Kepolisian Sektor Bungus Teluk Kabung, sampailah di simpang jalan masuk menuju lokasi, sebelah kiri dari arah Kota Padang.

Air Terjun Lubuk Hitam terdiri dari tiga tingkat, dan merupakan wisata objek semula jadi. Pengembangan kawasan itu tidak memengaruhi kealamiannya. Memasuki jalan menuju lokasi yang berupa jalan beton, terhampar pemandangan sawah menambah kuat nuansa alam pedesaan. Jalan beton bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat. Sampai di ujung jalan, tepat di kaki bukit di depan musala, adalah titik terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Sepeda motor masih bisa melanjutkan beberapa puluh meter lagi hingga ada tempat parkir tersedia. Perjalanan selanjutnya ditempuh dengan berjalan kaki, menanjak, di tepi sungai kecil, menikmati desiran air yang mengalir di sela-sela batu.

Ikhsan, salah seorang pemuda setempat yang menjadi pengelola tempat itu menuturkan, objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam sebelumnya hanya ramai dikunjungi pada waktu-waktu tertentu. Jumlah pengunjung pun tidak terlalu ramai, hanya kisaran 100 sampai 200 orang saja.

Hadirnya program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga di objek wisata tersebut membuat pintu gerbang Air Terjun Lubuk Hitam semakin terbuka lebar. Diawali pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PTLMH) dengan kapasitas 3 ribu watt, pada tahun 2024, tingkat kunjungan pun mulai meningkat.

Ia menceritakan, sebelum adanya TJSL Pertamina, objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam tidak terkelola dengan baik, dan pengunjungnya sepi. “Kalaupun ada pengunjung, pengelolaannya kurang rapi juga,” kenangnya.

Setelah mendapatkan program TJSL dia Bersama pemuda lainnya di daerah itu mulai berbenah, memperbaiki pengelolaan, memperbaiki infrastruktur jalan, melengkapi dengan berbagai rambu-rambu peringatan, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan secara bertahap. Termasuk juga mempersiapkan tim dan pos penjagaan demi keselamatan pengunjung.

“Kami mencoba membangun secara bertahap berbagai infrastruktur dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan agar akses pengunjung semakin baik, juga memperhatikan keselamatan pengunjung dengan petunjuk jalan, imbauan untuk berhati-hati, termasuk juga menyiagakan anggota tim di titik-titik tertentu sepanjang jalan hingga ke bagian tingkat ketiga air terjun untuk pertolongan pertama bagi pengunjung yang membutuhkan,” papar Ikhsan.

Ikhsan dan yogi air terjun lubuk hitamIa menambahkan, pemanfaatan daya listrik yang bersumber dari PLTMH bantuan Pertamina saat ini hanya untuk penerangan jalan serta kebutuhan pasokan listrik pedagang yang berjualan di lokasi wisata. Hal itu karena kapasitas listrik yang dihasilkan masih belum mencukupi untuk disalurkan ke rumah penduduk.

Pengelolaan Berdayakan Pemuda Lokal, Hasilnya Dimanfaatkan untuk Perekonomian Masyarakat

Yogi yang mengomandoi kelompok Koto Lestari sebagai pengelola Kawasan Wisata Air Terjun Lubuk Hitam menjelaskan, sejak mendapat kucuran bantuan TJSL Pertamina, objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam semakin ramai dikunjungi. Untuk itu, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan fasilitas lokasi tersebut agar aman bagi pengunjung yang datang berekreasi.

Kelompok pemuda diberikan semacam pelatihan dasar, bagaimana mengelola objek wisata, mengembangkan dengan tetap mempertahankan alamnya tetap natural. Termasuk juga dalam melayani pengunjung yang datang, menjaga keamanan dan keselamatannya selama berada di lokasi.

Dibekali PLTMH dengan kapasitas 3 ribu watt dari Pertamina, kelompok Koto Lestari mulai membenahi lokasi, membersihkan semak belukar untuk jalan setapak agar aman dilewati oleh pengunjung. Membentuk tim siaga yang ditempati pada titik-titik rawan sepanjang pendakian, dibekali dengan keterampilan dasar pertolongan pertama jika sewaktu-waktu terjadi insiden kecelakaan.

Lokasi tersebut menurut Yogi tidak hanya dikembangkan sebagai tempat pemandian alami namun juga ada beberapa program lainnya yang dirancang untuk menjadi sumber ekonomi. Di antara semak di sekeliling lokasi ada budidaya Madu Trigona atau dalam sebutan lokal Galo-Galo.

Trigona merupakan serangga sejenis lebah dengan ukuran badan yang kecil dan tidak menyengat. Rasa madunya manis sedikit asam, lebih encer dibanding madu lebah dan berwarna agak bening. Madu Trigona kaya akan antioksidan yang sangat baik untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Kelompok Koto Lestari lubuk hitamSelain budidaya Trigona, juga ada budidaya Ikan Gariang. Ikan jenis ini merupakan ikan air tawar yang biasa ditemukan di banyak sungai di Sumatera Barat terutama sungai yang berair jernih. Ikan yang termasuk dalam jenis Ciprynidae ini memiliki daging yang enak dan bernilai ekonomi tinggi. Juga dilakukan penanaman pohon untuk penghijauan pada lokasi yang termasuk rawan longsor.

Penghasilan dari penjualan tiket masuk dan parkir kendaraan dikumpulkan ke dalam kas. Sebagiannya digunakan untuk biaya operasional, sementara lainnya dimanfaatkan untuk membantu perekonomian masyarakat. Menurut Yogi, ramainya pengunjung menjadi berkah bagi masyarakat setempat untuk pemberdayaan ekonomi, alam tetap lestari.

Membuka Peluang Ekonomi, Menjaga Lingkungan Tetap Lestari

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga Fahrougi Andriani Simampouw menyebutkan, TJSL ditujukan antara lain bagi pengembangan ekonomi kreatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, mendorong inovasi energi terbarukan, dan pelestarian lingkungan.

FahrougiKawasan Air Terjun Lubuk Hitam dipilih sebagai objek program TJSL perusahaan karena melihat potensinya layak mendapat perhatian. Melalui pemberdayaan sumber daya kawasan itu, bisa dicapai banyak sasaran. Upaya pelestarian alam, pemanfaatan sumber daya alam untuk energi terbarukan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan membuka lapangan kerja.

Air Terjun Lubuk Hitam penting dilestarikan karena merupakan sumber air yang sangat dibutuhkan bagi banyak keluarga di kampung tersebut untuk pengairan sawah. Akan sangat berbahaya jika lokasi itu tidak dijaga, karena berpotensi longsor kalau pohonnya ditebangi.

“Tahun 2023 dilakukan pemetaan, lokasinya sangat bagus untuk tujuan wisata alam. Jadi setelah melakukan survei kami membicarakannya dengan masyarakat untuk mematangkan rencana pengembangan. Masyarakat pun mendukung sehingga program pun mulai berjalan,” kata Fahrougi.

Pembangunan PLTMH menurut Fahrougi adalah sebagai pintu masuk bagi upaya pengembangan objek tersebut secara berkelanjutan sampai nantinya kelompok pengelola bisa mandiri. Setelah PLTMH, juga ada penanaman pohon, bibit ikan, madu Trigona, di samping juga bimbingan dan pelatihan untuk kelompok pengelola.

“Dengan masuknya program, kelompok yang mengelola ini yaitu Kelompok Koto Lestari mulai melakukan berbagai perubahan positif sehingga pengelolaan menjadi semakin baik, tingkat kunjungan pun mulai meningkat. Sejalan itu, juga terjadi perbaikan ekonomi masyarakat, terbukanya lapangan kerja, sesuai dengan tujuan kita,” ujarnya.

Fahrougi melihat, objek wisata Air Terjun Lubuk Hitam saat ini sudah mulai menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Tingkat kunjungan sudah jauh meningkat, bahkan pada hari-hari tertentu seperti akhir pekan bisa mencapai seribuan lebih. Pihaknya terus melakukan monitoring dan evaluasi dengan tujuan ketika program berakhir nanti, kelompok pengelola sudah bisa mandiri.

“Ini yang kita upayakan, program TJSL ini bisa berdaya nilai lebih, berkelanjutan, sehingga suatu saat nanti, setelah mungkin tiga sampai lima tahun kita bisa exit dengan tenang karena kelompok binaan yang ditinggalkan telah mandiri,” ungkapnya.

Ia berharap, kinerja kelompok dalam pengelolaan Air Terjun Lubuk Hitam dapat terus ditingkatkan sehingga kawasan wisata tersebut mendatangkan dampak ekonomi yang lebih besar lagi kepada masyarakat. Hutan lestari, sumber daya alam terkelola maksimal, dan di saat yang sama juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat di sekitar. Melestarikan alam adalah langkah bijak untuk keselamatan generasi di masa mendatang. ***

Penulis: Pebrius Dwinus (Wartawan Utama 9749)
DIterbitkan untuk diikutkan dalam AJP 2026

Berita Terkait

Leave a Reply