Festival Sipak Rago Perebutkan Piala Bergilir Evi Yandi, Upaya Pelestarikan Budaya Minangkabau
  • Home
  • Berita
  • Festival Sipak Rago Perebutkan Piala Bergilir Evi Yandi, Upaya Pelestarikan Budaya Minangkabau

Festival Sipak Rago Perebutkan Piala Bergilir Evi Yandi, Upaya Pelestarikan Budaya Minangkabau

Evi Yandri Sipak Rago Copy

PADANG — Sedikitnya 28 tim Sipak Rago memastikan diri hadir mengikuti Festival Sipak Rago memperebutkan piala bergilir Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat Evi Yandri Rajo Budiman Sabtu dan Minggu (11-12 Juli 2026). Festival tersebut merupakan salah satu upaya dalam melestarikan budaya Minangkabau permainan tradisional Sipak Rago sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBtB) yang sudah diakui secara nasional.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Evi Yandri Rajo Budiman membuka festival tersebut di Gedung Rohana Kudus, Padang, Sabtu (11/7/2026) menjelaskan, Festival Sipak Rago sudah berjalan selama lima tahun. Kegiatan itu memanfaatkan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pokok-pokok pikiran (pokir) Evi Yandri sebagai anggota DPRD.

“Kegiatan ini sebetulnya sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 namun yang didanai APBD baru lima tahun ke belakang,” kata Evi Yandri.

Festival dengan tema “Lestarikan Budaya dengan Permainan Anak Nagari Sipak Rago” itu menurut Evi Yandri merupakan upaya menjaga eksistensi permainan Sipak Rago sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang telah diakui secara nasional. Dengan dukungan APBD, kegiatan itu bisa dilaksanakan secara rutin dengan tujuan agar Sipak Rago tetap dikenal oleh seluruh kalangan lintas generasi.

Lebih jauh Evi Yandri menerangkan, permainan anak nagari Sipak Rago hampir mirip dengan permainan sepak takraw. Namun ada filosofi yang terkandung dalam permainan tradisional itu yaitu kerja sama antarpemain agar rago (bola keranjang) yang dimainkan tidak jatuh ke tanah selama mungkin.

“Sipak Rago mengedepankan kekompakan dan kerja sama yang baik antarpemain, uji ketangkasan untuk saling mendukung dan berkonsentrasi bagaimana mempertahankan rago yang dimainkan tidak jatuh ke tanah selama mungkin,” ungkapnya.

Meski terlihat seperti sebuah permainan sederhana, lanjutnya, siapa yang menyangka bahwa Sipak Rago memiliki sebuah rahasia besar di dalam sejarah perjuangan bangsa. Permainan yang mengedepankan ketangkasan dan kekompakan itu ternyata merupakan alat kamuflase bagi kaum lelaki muda Minangkabau untuk berlatih bela diri dengan kedok permainan.

“Permainan ini dalam sejarahnya adalah kedok untuk mengecoh penjajah yang melarang pemuda-pemuda berlatih bela diri. Jadi, melalui Sipak Rago, kaum lelaki muda ini melatih ketangkasan bela dirinya tanpa diketahui,” ujarnya.

Kepala Museum Adityawarman Tuti Alawiyah mewakili Dinas Kebudayaan Sumatera Barat menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Sipak Rago tersebut. Ia menegaskan, Sipak Rago bukan sekadar permainan tradisional namun lebih dari itu merupakan identitas budaya yang kaya akan nilai sejarah, persatuan, dan kedisiplinan.

“Festival ini menjadi momen penting bagi upaya pelestarian budaya Minangkabau agar terus dikenal masyarakat dari generasi ke generasi,” ujarnya. F

Berita Terkait

Leave a Reply