PADANG – Akibat Limbah yang dikeluarkan Pabrik Karet PT. Teluk Luas, warga merasa tidak nyaman menggunakan air sungai yang sehari-hari mereka gunakan untuk mandi, cuci, kakus (MCK). hal itu disampaikan perwakilan masyarakat RT 003 RW 002 Kelurahan Tanjung Saba,Kecamatan Lubuk Begalung ke DPRD Padang, Rabu(30/9).
Ilham salah seorang warga menyatakan, limbah yang keluar dari saluran pabrik berupa limbah cair yang berwarna pekat dan berbusa serta menimbulkan bau yang tidak sedap. “Biasanya limbah itu keluar saat malam ataupun saat hujan lebat. Kalau siang atau hari-hari biasa, memang limbah yang keluar agak jernih,” katanya.
Dikatakan sekitar tiga ahun lalu, lubang pembuangan hanya satu, namun beberapa waktu belakangan, lubang itu sudah bertambah menjadi tiga buah. “Ini juga mengakibatkan limbah semakin banyak yang keluar. Penambahan lubang tersebut tidak ada koordinasi dengan msyarakat,” terangnya.
Akibat limbah tersebut, air sungai menjadi berwarna keruh akan merusak ekosistem yang ada dan tidak bisa digunakan oleh warga. “Secara umum kualitas air pada perairan sungai sudah mengalami penurunan,” lanjutnya.
Hal senada juga diakui A Rahman, Ketua Pemuda Kel Tanjung Saba. Dia berharap anggota dewan bisa menindaklanjuti pengaduan mereka sehingga masyarakat kembali nyaman dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.
Kedatangan masyarakat itu diterima komisi III DPRD Padang dipimpin Wakil Ketua Komisi Helmi Moesim. Pada kesempatan itu Helmi Moesim menyatakan dari peninjauan di lapangan dilihat pihak perusahaan memang sudah melakukan pengolahan limbah. Namun itu bisa saja dilakukan hanya saat DPRD melakukan peninjauan.
“Namun kita tidak tahu bagaimana malam atau saat hujan seperti pengaduan masyarakat. Kalau memang terbukti, Komisi III merekomendasikan kepada pemerintah kota untuk meninjau ulang izin pabrik tersebut. Atau bila perlu kalau memang terbukti melanggar, kita minta ditutup saja. Ini tidak hanya berlaku bagi Teluk Luas saja, tapi semua perusahaan di Padang,”ungkapnya.
Wakil Ketua DPRD Padang Asrizal mengatakan pihaknya segera menindaklanjuti pengaduan itu dengan melakukan peninjauan ke lapangan. “Kita akan lihat sejauh mana pengelolaan limbah disana dan akan mengambil sampel untuk diuji,” katanya.
Sementara Kepalda Bapedalda Padang Edy Hasymi menyatakan pihaknya sering mendengar dari masyarakat pabrik membuang limbah saat hujan lebat atau saat malam. “Kami kesulitan karena tidak ada petugas yang bisa turun malam. Kalau ada masyarakat melihat ada pembuangan limbah ambil sampel dalam botol, beri ke Bapedalda untuk diuji. Harus dengan bukti yang kuat,” ungkapnya. (baim)






