SAWAHLUNTO – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menetapkan Walikota Sawahlunto Ali Yusuf, S.Pt menjadi satu dari delapan kepala daerah penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Walikota ini dinilai menggunakan pendekatan budaya berbasis kearifan bangunan-bangunan cagar budaya, dan mengubah sisa-sisa peninggalan tambang batubara, seperti terowongan, gedung-gedung tua menjadi objek wisata.
Selain melestarikan songket Silungkang sebagai ikon lokal yang sudah mendunia, memelihara kearifan budaya suku-suku pendatang, seperti suku Jawa yang telah 4 generasi, serta Minang, Batak,Bugis, dan Cina, dengan budaya partisipatif meraih kesejahteraan dan kedamaian bersama.
Hal itu di atas menjadi pertimbangan bagi Walikota Sawahlunto akan menerima Anugerah Kebudayaan Berbasis Warisan Cagar Budaya, Tenun, dan Pariwisata, yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016, di Lombok Nusa Tenggara Barat awal Februari tahun depan,
Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf menyatakan, kebudayaan, seni dan peninggalan bersejarah merupakan potensi besar, yang akan terus dipertahankan Sawahlunto, dalam mengembangkan menjadi kota tujuan wisata.
“Kebudayaan, kesenian dan peninggalan bersejarah merupakan kekayaan daerah, yang dimanfaatkan secara maksimal dalam mengembangkan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui berbagai sektor,” ujar
Ali Yusuf
Sebelumnya, Ketua Umum PWI Pusat, Margiono kepada wartawan, akhir pekan lalu mengungkapkan, anugerah yang diberikan bertujuan untuk lebih memacu kepada daerah, dalam membangun kebudayaan di daerahnya
masing-masing. Khususnya mereka yang peduli melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan lokal untuk pembangunan yang berkeadaban. Sehingga dapat menjadi inspirasi bersama, serta memotivasi para
pimpinan daerah seluruh Indonesia dalam memajukan kebudayaan.
Sekretaris Jenderal PWI Hendry Ch Bangun menambahkan, negara maju seperti Jepang dan China, meski globalisasi mendera, hingga saat ini mereka tetap hidup dengan kebudayaannya yang terus diaktualisasikan. Hal itu guna menjawab tantangan yang ada, tanpa kehilangan karakter dan jatidiri. Bahkan mereka tidak ketinggalan, dan berada dalam kemajuan dengan karakternya budayanya sendiri. Indonesia dengan kebudayaannya yang ada, sudah seharusnya bisa. (tumpak)







