
PADANG – Laju perekonomian Sumatera Barat pada triwulan II tahun 2019 terakselerasi pada level terbatas. Perekonomian Sumatera Barat didorong oleh peningkatan aktifitas ekonomi selama masa perayaan Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN).
Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat, Wahyu Purnama dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Sumatera Barat Agustus 2019, Jumat (27/9/2019).
Wahyu menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat triwulan II tahun 2019 mencapai 5,02 persen (year on year/ yoy). Pertumbuhan ini meningkat dibanding triwulan I yang hanya 4,80 persen (yoy).
“Pertumbuhan ekonomi Sumbar tersebut lebih tinggi dibanding rerata pertumbuhan Sumatera sebesar 4,52 persen (yoy). Namun sedikit lebih rendah dari nasional yang mencapai 5,05 persen,” ungkap Wahyu.
Dia menerangkan, konsumsi rumahtangga (pangsa 55 persen dan andil 2,64) persen) masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Triwulan II 2019, konsumsi rumahtangga tumbuh sebesar 4,66 persen(yoy). Meningkat dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 4,66 persen (yoy).
“Tingginya konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan didorong oleh naiknya konsumsi selama masa Ramadhan dan Idul Fitri, di tengah kenaikan pendapatan dari penyaluran THR dan bansos serta PKH tahap II,” ulasnya.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah (pangsa 13 persen dan andil 1,40 persen) menjadi 11,92 persen (yoy) pada triwulan II 2019. Angka ini meningkat sangat signifikan dibandingkan periode sebelumnya sebesar 3,27 persen (yoy), sesuai dengan pola kenaikan belanja pemerintah yang meningkat di triwulan II.
Sementara dari pertumbuhan investasi dengan pangsa 29 persen dan andil 1,54 persen, juga mengalami peningkatan. Pada triwulan II 2019, investasi tumbuh sebesar 5,29 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 4,56 persen (yoy), seiring dengan banyaknya realisasi anggaran belanja modal terutama oleh pemerintah pusat.
Meski demikian, kontraksi komoditas ekspor cukup dalam pada level -18,84 persen (yoy) meniadi penahan laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II 2019. Hal ini disebabkan masuknya masa trek kelapa sawit (penurunan produksi kelapa sawit sampai dengan level terendah sepanjang tahun). Juga disebabkan penurunan permintaan negara mitra dagang karena faktor berlarutnya perang dagang.
Sedangkan dari sisi impor, pada triwulan II 2019 mengalami peningkatan signifikan, 11,24 persen (yoy). Peningkatan cukup jauh dari perkembangan impor triwulan I 2019 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,91 persen (yoy). Peningkatan kinerja impor ini terutama disumbang oleh pertumbuhan impor migas yang cukup signfikan sebesar 10,47 (yoy) untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idul Fitri. (fdc)






