
PADANG – Persentase transaksi non tunai di Indonesia masih relatif rendah, dibanding negara-negara tetangga. Tingkat transaksi non tunai di Indonesia masih berada pada kisaran 40 persen, sementara negara lain sudah di atas 50 persen.
Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Endy Dwi Tjahjono membuka karnaval Gerakan Transaksi Nasional Non Tunai (GNNT) di GOR Agus Salim, Minggu (1/10) pagi. Karnaval GNNT, kata Endy, adalah dalam rangka menggencarkan pengenalan sistim transaksi non tunai kepada masyarakat luas.
“Persentase transaksi non tunai di Indonesia masih relatif rendah. Dibanding dengan negara tetangga yang sudah diatas 50 persen, Indonesia masih dibawah 40 persen,” kata Endy.
Dengan diselenggarakannya karnaval GNNT tersebut, Endy berharap masyarakat semakin “familiar” terhadap transaksi non tunai. Kegiatan tersebut menurutnya sudah merupakan yang kedua kali, setelah yang pertama di Muaro Lasak tahun lalu.
“Ini merupakan langkah sosialisasi sehingga masyarakat semakin familiar dan paham dengan transaksi non tunai dan merasakan kemudahan bertransaksi dibanding dengan menggunakan uang kartal,” lanjutnya.
Karnaval GNNT 2017 juga diramaikan dengan hadirnya beberapa merchant kuliner dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sudah menggunakan sistim non tunai dalam aktifitas jual beli. Pelaku usaha terutama UMKM diharapkan juga mampu mengikuti perkembangan transaksi keuangan terkini.
“Dengan semakin banyaknya masyarakat yang bertransaksi secara non tunai, baik menggunakan kartu ATM, kartu kredit atau uang elektronik, akan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dalam kesempatan itu mengajak masyarakat untuk membiasakan diri dengan sistim pembayaran non tunai. Menurutnya, transaksi non tunai memiliki banyak manfaat, terutama sekali dari segi keamanan.
“Dengan menggunakan uang elektronik, belanja lebih mudah, dan yang penting adalah lebih aman daripada membawa uang tunai pada saat berbelanja,” katanya. (feb)






