PADANG – Perkembangan pasar modal di Sumatera Barat terus bertumbuh. Per 31 Oktober 2019, dengan frekwensi transaksi 145.362 kali, nilai transaksi mencapai Rp911.633.121.270,-.
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Barat Early Saputra menyebutkan hal itu, Rabu (6/11/2019). Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat sebanyak 16.602 Single Investor Identification (SID) dengan 18.969 Sub Rekening Efek (SRE).
“Nilai transaksi pasar modal Sumatera Barat per 31 Oktober 2019 mencapai Rp911,633 miliar dengan frekwensi transaksi 145.362 kali,” kata Early.
Dia menambahkan, nilai aset saham tercatat sebesar Rp634.822.122.657,-. Sementara nilai aset selain saham sebesar Rp1.054.650.637.350,-.
Dari data tersebut, Kota Padang menempati urutan pertama dengan jumlah SRE sebanyak 9.260. SID dengan SRE aktif tercatat sebanyak 7.756. Dengan total 1.055 kali login, jumlah transaksi sebesar 735.388.415.070, frekwensi transaksi 95.456. Urutan kedua adalah Tanahdatar dengan SRE sebanyak 1.553, SID dengan SRE aktif 1.464, 142 kali login, dari 6.992 kali frekwensi transaksi mencatatkan jumlah transaksi sebanyak 32.854.267.800.
Early juga mengungkapkan, Indo Premier menjadi anggota bursa (AB) yang mencatatkan SID terbanyak, disusul Mandiri Sekuritas, BNI sekuritas dan Panin Sekuritas. Selain itu, ada Trimegah Sekuritas Ind, FAC Sekuritas Ind, MNC Sekuritas, Mirae Sekuritas Ind,RHB Sekuritas Ind dan OSO Sekuritas Ind.
Sementara AB dengan nilai tertinggi rank nilai aset saham secara berurutan adalah Dhanawibawa, Mirae Aset Sekuritas Ind, OSO Sek Ind, Valbury Sek Ind,, Panin Sekuritas Ind. Kemudian BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Indo Premier, Phillip Sekuritas Ind, BCA Sekuritas, Universal Broker Ind Sekuritas, Paramitra Alfa Sekuritas dan MNC Sekuritas.
Early optimis, perkembangan pasar modal di Sumatera Barat akan terus bertumbuh. Pihaknya, dengan menggandeng anggota bursa terus melakukan berbagai sosialisasi dan memberikan edukasi kepada masyarakat. (fdc)






