JAKARTA- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengepung sejumlah wilayah. Kualitas udara makin memburuk sementarak titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan seperti tak ada matinya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (1/9) menginformasikan pantauan satelit Modis dari NASA pada pagi hari di Sumatera ada 198 titik api (hotspot) dan Kalimantan sebanyak 591 hotspot.
Di Sumatera, hotspot terpantau di Riau sebanyak 82 titik, Sumsel 46 titik, Jambi 59 titik, Sumbar 7 titik, Lampung 3 titik dan Sumut 1 titik. Sedangkan di Kalimantan terpantau paling banyak di Kalteng sebanyak 313 titik, Kaltim 138 titik, Kalbar 74 titik, Kaltara 36 titik dan Kalsel 30 titik.
Menurut Sutopo, asap masih mengepung banyak daerah. Jarak pandang di Pekanbaru pada pagi hari ini hanya 1 km, Rengat 1 km, Pelalawan 2 km, Jambi 400 meter, dan Pontianak 200 meter.
Di Jambi, pesawat terbang Garuda Indonesia pukul 05.45 delay sampai pukul 10.00 Wib. Kemudian terbang di atas Jambi tetapi tidak dapat mendarat, dan akhirnya balik ke Jakarta.
” Kualitas udara ketegori tidak sehat. ISPU di Palangkaraya sejak pagi mencapai 628 yang artinya sangat berbahaya, sangat jauh di atas ambang berbahaya 350,” katanya.
Ia menambahkan, karhutla selalu berulang setiap tahun, seperti sudah menjadi tradisi tahunan saat musim kemarau. Jutaan jiwa masyarakat terkena dampak dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai trilyunan Rupiah.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk memadamkan api, baik di darat maupun di udara. Saat ini, tindakan hanya berfokus pada memadamkan kebakaran.
Pemerintah dan daerah perlu mengadopsi lebih banyak strategi preventif yang mengatasi akar masalah kebakaran hutan dan lahan. Lemahnya penegakan hukum menyebabkan kebakaran selalu berulang.
Berdasarkan penelitian CIFOR, pembukaan lahan dengan membakar telah lama digunakan oleh peladang dalam rangka penyiapan lahan. Hal tersebut dilakukan karena mereka mengharapkan lahannya bersih, mudah dikerjakan, bebas hama dan penyakit serta mendapatkan abu hasil pembakaran yang kaya mineral.
” Motif demikian pulalah yang dilakukan oleh korporasi saat ini, baik oleh perkebunan kelapa sawit maupun oleh pengusaha hutan tanaman industri maupun non hutan seperti sagu,” tutupnya. (feb)






