AGAM – Setiap musim hujan, petani jagung di Kabupaten Agam sering menderita kerugian. Hal itu disebabkan tidak adanya alat pengering yang dimiliki petani. Pantauan Padangmedia.com di sentra penghasil jagung di Kabupaten Agam. setiap musim hujan tiba, mereka mengeluh, namun tidak tahu kemana mesti menyampaikan keluhannya.
Menurut beberapa petani jagung di Kecamatan Ampek Nagari dan Palembayan, setiap musim hujan, panen mereka rusak. sebab, biji jagung yang sudah dilepas dari tongkolnya sering membusuk. Mereka tidak bisa mengeringkannya, karena masih bergantung pada panas matahari untuk pengeringan.
“Bagaimana kami hendak mengeringkan, saat ini langit sering mendung,” kata Adi, petani jagung saat ditemui Padangmedia.com di Nagari Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Selasa (17/1).
Kondisi demikian juga diakui seorang petani, yang juga pedagang pengumpul, Dt. Indo Marajo. Menurutnya, saat ini petani di Agam lagi bergairah menanam jagung, disebabkan, harga jagung relatif stabil. Perawatannya juga tidak rumit, dan tidak membutuhkan biaya tinggi.
Namun, pada musim hujan, petani mengeluh karena banyak biji jagung mereka rusak. Bagi yang gigih, bisa menyelamatkan kerusakan, namun tetap dibeli pedagang dengan harga rendah dari pasaran.
“Kami petani jagung sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah, agar pada musim hujan panen kami tidak rusak,”harapnya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Arief Restu, saat di konfirmasi, mengaku, pihaknya telah meminta bantuan Pusat untuk pengadaan mesin pengering biji jagung. Namun sampai saat ini, realisasinya belum ada.
“Untuk mempercepat mendapatkan bantuan, diharapkan petani membentuk kelompok tani, atau koperasi berbadan hukum. Kelompok berbadan hukum diyakini akan lebih diperhatikan Pemerintah Pusat, bila mereka mengajukan permohonan yang dilengkapi dengan proposal,” pungkasnya. (fajar)







