Sumbar Alami Deflasi, Pergerakan Harga Masih Moderat
  • Home
  • Berita
  • Sumbar Alami Deflasi, Pergerakan Harga Masih Moderat

Sumbar Alami Deflasi, Pergerakan Harga Masih Moderat

PADANG – Masuk bulan kedua tahun 2018, perkembangan Indek Harga Konsumen (IHK) Sumatera Barat mencatatkan deflasi 0,10 persen (month to month/mtm). Angka ini mencatatkan penurunan dibanding realiasi pada Januari lalu yang mencatatkan inflasi 0,46 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat selaku Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat, Endy Dwi Tjahjono mengungkapkan, besaran deflasi yang dicapai tersebut menempatkan Sumatera Barat sebagai provinsi terendah ke 11 dari 14 provinsi yang mengalami deflasi di seluruh Indonesia.

“Deflasi disumbang oleh turunnya harga kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) dan harga barang yang diatur pemerintah (administered price),” kata Endy, Selasa (6/3).

Pada kelompok volatile food, mengalami penurunan yang cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya. Pada Pebruari, tercatat deflasi kelompok ini sebesar 0,83 persen (mtm) sementara pada Januari masih mengalami inflasi sebesar 0,93 persen (mtm).

“Deflasi kelompok bahan pangan disumbang oleh turunnya harga beras, daging ayam ras dan bawang merah,” jelasnya.

Harga barang yang diatur pemerintah (administered price) menurut Endy mencatatkan deflasi sebesar 0,02 persen yang disumbang terbesar oleh penurunan harga angkutan udara. Berakhirnya periode “peak season” liburan sekolah akhir tahun menjadi penyebab turunnya harga.

“Meski demikian, penurunan ini sedikit tertahan karena kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi,” lanjutnya.

Sementara itu, pada kelompok inti (core), masih terjadi inflasi pada Pebruari meskipun sedikit menurun dibanding Januari 2018. Pada Pebruari, tercatat kelompok inti menyumbang inflasi sebesar 0,24 persen (mtm), lebih rendah dari Januari yang sebesar 0,46 persen.

“Kenaikan harga emas perhiasan terjadi seiring naiknya harga emas sebagai imbas dari pelemahan dollar Amerika Serikat serta sentimen terhadap komitmen The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan,” terangnya.

Pergerakan harga di Sumatera Barat diperkirakan meningkat dan mengalami inflasi pada level moderat pada Maret 2018. Dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan menjadi salah satu penyebab tekanan inflasi Sumatera Barat pada bulan Maret 2018. Selain itu, tekanan inflasi juga berasal dari meningkatnya harga pada kelompok volatile food terutama pada komoditas yang rentan terhadap gangguan cuaca seperti cabai merah dan beras.

Berdasarkan perkiraan BMKG, curah hujan di Sumatera Barat pada Maret 2018 diperkirakan mengalami intensitas menengah hingga tinggi. Kondisi tersebut akan mengganggu proses penjemuran gabah, serta berisiko menyebabkan gangguan produksi cabai merah yang rentan terhadap kondisi lembab dan basah.

Pasokan cabai merah dari Jawa diprakirakan juga mengalami penurunan seiring dengan prakiraan curah hujan di daerah Jawa pada level tinggi dengan sifat hujan mayoritas normal hingga di atas normal. (feb/*)

Berita Terkait

Leave a Reply