Sanitasi di Sumatera Barat Masih Buruk

Sanitasi di Sumatera Barat Masih Buruk

PADANG –  Menurut data Badan  Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 di Sumatera Barat  baru   56,85 persen memiliki akses sanitasi layak.  Sementara sisanya, sekitar 2,3 juta atau satu diantara 5 orang masih belum mendapat akses sanitasi layak.  Artinya, kondisi sanitasi di Sumatera Barat masih buruk.  Kenyataan ini mengungkapkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah Sumatera Barat cukup berat  untuk mewujudkan sanitasi yang aman.

Hal ini tersimpul dalam diskusi terbatas yang digelar Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), SNV Indonesia dan Forum Editor Sumbar, di Padang, Jumat (19/7).

Dipihak lain, sanitasi adalah hal penting karena dampak sanitasi buruk  bagi kesehatan sangatlah membahayakan. Dari data Riskesdas 2007, sebanyak 31 persen anak-anak Indonesia berusia  1 -12 bulan meninggal dunia akibat buruknya  kondisi air, sanitasi dan perilaku bersih

Selain berujung kematian, dampak sanitasi buruk, menurut Bambang Pujiatmoko, WASH Advisor SNV Indonesia, adalah Stunting  (anak kerdil). “Ada 3 hal penyebab stunting, yaitu kurang gizi, pola asuh bayi serta air dan sanitasi. Tapi sayangnya program stunting selama ini kurang mengarah pada air dan sanitasi. Sementara dari data yang ada, di Sumatera Barat baru 2,3 juta yang memiliki akses sanitasi layak. Di level nasional, hanya 7,42 persen termasuk sanitasi aman. Masih sangat kecill,” ungkap Bambang.

Masih dari diskusi yang diikuti oleh belasan jajaran editor media di Sumatera Barat dan unsur PKBI Sumbar   itu juga diketahui bahwa bukan hanya persoalan sanitasi, tetapi juga perilaku masyarakat yang masih buang air besar sembarangan (BABS).  Menurut  data STBM Smart Kemenkes, lebih dari  1 juta orang penduduk Sumatera Barat  atau 23 persen  masih BABS.

Bambang Pujiatmoko, WASH Advisor SNV Indonesiara

Dikatakan Bambang, kebiasaan BABS  sangat berdampak pada kesehatan masyarakat. Sebab melalui tinja yang mengandung banyak  mikroba dan bakteri dapat berujung kematian pada balita.

“Tinja mengandung miliaran mikroba diantaranya bakteri Eschericia coli (diare), Salmonella tiphy (Tipus), Vibrio cholerae (kolera)  Virus Hepatitis dan Polio,  Telur Cacing Cambuk, Gelang, Tambang, Kremi dan lainnya. Semuanya berdampak buruk bagi kesehatan, khususnya  balita,” papar Bambang.

Berdasarkan kondisi dan kenyataan di Sumatera Barat, SNV Indonesia dan PKBI akan mendorong pemerintah untuk lebih peduli pada sanitasi dan air bersih.  Bersama-sama akan dilakukan sosialisasi untuk masyarakat agar lebih menyadari kebersihan lingkungan. Bambang mencontohkan kondisi jamban penduduk yang  belum layak.  Masih banyak sumur warga yang tercemar kotoran dan bakteri. Di kawasan perumahan yang padat, karena sempitnya area, kadangkala memaksa  warga untuk memiliki bak penampuangan kotoran (septic tank) bersama. Idealnya , kata Bambang, satu rumah memiliki satu septic tank. Jarak antara sumur dan septic tank juga diatur sejauh 10 meter agar  air  yang dipergunakan warga setiap hari tidak tercemar bakteri.

Kedepan, PKBI,  seperti dikatakan Firdaus Jamal ketua PKBI Sumbar, bersama SNV akan memfokuskan pada tiga daerah untuk mengurangi kasus stunting di Sumatera Barat  yaitu, Pasaman, Pasaman Barat dan Kabupaten Solok.  “Kita fokus pada peningkatan kesadaran  masyarakat terhadap sanitasi dan air bersih untuk mengurangi stunting. Bila selama ini pengurangan stunting yang dilakukan lebih mengarah pada perbaikan dan asupan gizi , kita akan fokus pada sanitasi. Selama ini persoalan sanitasi masih belum banyak disentuh. Padahal sanitasi berdampak sangat serius bagi kesehatan terutama bayi,” ujar Firdaus. (nit)

Berita Terkait

Leave a Reply